MonitorUpdate.com – Sebanyak 43 cagar budaya di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat rusak akibat banjir dan longsor. Di tengah proses pemulihan, pemerintah kembali disorot karena dinilai lamban memitigasi risiko bencana pada situs-situs heritage yang berada di zona rawan.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon melaporkan bahwa 43 objek cagar budaya terdampak bencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Sumatra. Mayoritas kerusakan terjadi di Aceh dengan 34 situs, disusul Sumatra Utara sebanyak 7 situs, dan dua situs di Sumatra Barat.
“Total ada sekitar 43 yang terdampak,” kata Fadli dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (4/12/2025). “Sebagiannya terendam banjir, sebagian lain tertutup lumpur, dan beberapa mengalami kerusakan berat akibat longsor.”
Bencana tersebut juga memengaruhi 72 juru pelihara cagar budaya di tiga provinsi. Meski seluruhnya dilaporkan selamat, banyak dari mereka kehilangan tempat tinggal karena banjir dan longsor yang menerjang wilayahnya.
Baca Juga : Korban Banjir Bandang–Longsor di Aceh dan Sumatera Melonjak: 836 Tewas, 518 Masih Hilang
Kementerian Kebudayaan telah menggalang Rp1,5 miliar untuk membantu penanganan dampak bencana dan pemulihan situs. Namun, sejumlah pengamat menilai angka ini hanya menyentuh kebutuhan darurat dan belum menyentuh akar persoalan, yakni ketiadaan sistem mitigasi nasional untuk situs bersejarah.
Kritik Mengemuka: Mitigasi Lemah, Anggaran Tidak Berbasis Risiko
Sejumlah pengamat kebudayaan menilai bahwa kerusakan puluhan situs ini seharusnya tidak hanya dipandang sebagai dampak bencana alam, melainkan cerminan ketidakseriusan pemerintah dalam membangun sistem perlindungan kawasan cagar budaya.
“Banjir dan longsor memang faktor pemicu, tetapi persoalan sebenarnya adalah absennya peta risiko dan standar perlindungan berbasis kebencanaan pada cagar budaya,” ujar seorang peneliti warisan budaya yang dihubungi secara terpisah.
Ia menyoroti bahwa sejumlah situs yang rusak, seperti Rumah Adat Toweren, Rumah Cut Meutia, hingga jalur kereta tua Sawahlunto–Teluk Bayur, sudah sejak lama masuk zona rawan banjir dan longsor. Namun hingga kini, tidak ada mekanisme komprehensif untuk memperkuat struktur, mengatur drainase, atau membuat buffer zone.
Kritik serupa juga diarahkan pada alokasi anggaran kebudayaan yang selama ini dinilai tidak berbasis risiko. Banyak situs penting berada di wilayah yang secara geologis rentan, tetapi tidak mendapatkan prioritas dalam program penguatan fisik atau dokumentasi digital untuk mitigasi kehilangan.
“Jika pemerintah tidak memiliki data risiko yang terukur, kita akan selalu ‘memadamkan api’ setiap kali bencana datang. Puluhan cagar budaya rusak hari ini adalah bukti bahwa pola itu masih berulang,” ujarnya.
Ancaman Lanjutan: Abrasi Sungai dan Longsor Susulan
Di Aceh Besar, Masjid Indrapuri dan Benteng Indrapuri kini terancam abrasi sungai. Sementara situs Loyang Ujung Karang di Aceh Tengah dilaporkan mengalami kerusakan berat akibat longsor, dan dikhawatirkan terjadi longsor susulan.
Sejumlah pihak meminta Kementerian Kebudayaan segera mengerahkan Tim Tanggap Darurat Konservasi untuk melakukan dokumentasi, penghalangan air, dan penguatan struktur darurat sebelum kerusakan meluas.
Daftar Cagar Budaya yang Terdampak
-Aceh (34 objek terdampak)
1. Kabupaten Pidie
Komplek Makam Putro Balee – Terendam banjir
Komplek Makam Sultan Ma’ruf Syah – Terdampak banjir
Komplek Bangunan Masjid Poteumereuhom – Tergenang banjir
Makam Putri Sani – Tergenang banjir
Makam Daeng Mansyur – Tergenang banjir
2. Kabupaten Pidie Jaya
Masjid Madinah, Meureudu – Terendam banjir & lumpur (berat)
Masjid Tgk. Pucok Krueng – Terendam banjir (berat)
3. Kabupaten Bireuen
Makam Tun Srilanang – Terendam banjir & lumpur (berat)
Masjid Tuha Bugeng – Terendam banjir & lumpur (berat)
4. Kabupaten Aceh Tengah
Situs Loyang Ujung Karang – Terkena longsor (berat)
Masjid Tua Kebayakan – Tergenang banjir
Masjid Baiturrahim, Rawe – Terendam banjir
Rumah Adat Toweren – Terendam banjir (parah)
5. Kabupaten Aceh Utara
Situs Cot Tgk. Sidi Abdullah – Terendam banjir
Makam Malikussaleh/Malikudhahir – Terendam banjir
Komplek Makam Sultanah Nahrisyah – Terendam banjir
Komplek Makam Sidi Abdullah – Terendam banjir
Komplek Makam Perdana Menteri Muhammad Yakob – Terendam banjir
Komplek Makam Batee Balee – Terendam banjir
Rumah Cut Meutia – Terendam banjir
Komplek Makam Said Syarif – Terendam banjir
Komplek Makam Tajul Muluk – Terendam banjir
Komplek Makam Raja Muhammad – Terendam banjir
Komplek Makam Raja Kanayan – Terendam banjir
Komplek Makam Naina Hisamuddin – Terendam banjir
6. Kabupaten Aceh Timur
Masjid Simpang Ulim – Tergenang banjir
7. Kabupaten Aceh Tamiang
Situs Bukit Kerang – Terendam banjir (parah)
Situs Bukit Remis – Terendam banjir (parah)
8. Kota Banda Aceh
Komplek Makam Meurah II – Tergenang air
9. Kabupaten Aceh Besar
Masjid Indrapuri & Benteng Indrapuri – Terancam abrasi sungai
Benteng Indrapatra – Tergenang air
Benteng Iskandar Muda – Tergenang air
Benteng Kuta Lubok – Tergenang air
10. Kabupaten Nagan Raya
Masjid Tengku Di Kila – Tergenang banjir
-Sumatera Utara (7 objek terdampak)
11. Kota Medan
Rumah Tjong A Fie – Banjir masuk ke dalam bangunan
Masjid Raya Al Osmani – Banjir ke area masjid & makam.
Masjid Raya Al Mahsun – Banjir di depan pagar masjid
12. Kabupaten Langkat
Masjid Azizi – Banjir masuk area masjid & komplek makam
13. Kabupaten Tapanuli Selatan
Bagas Godang Sipirok – Banjir
Masjid Sri Alam Dunia – Banjir
Bagas Godang Muaratais – Banjir
-Sumatera Barat (2 objek terdampak)
Rumah Rasuna Said (Kab. Agam) – Terkena dampak banjir (menunggu konfirmasi)
Jalur Kereta Api Sawahlunto–Teluk Bayur (Kab. Pesisir Selatan) – Banyak segmen terdampak banjir & longsor. (MU01)










