Prabowo Anugerahkan Gelar Pahlawan kepada Gus Dur dan Soeharto, Komposisi Nama Picu Sorotan Publik

Penganugerahan gelar pahlawan nasional 2025. Foto: YouTube BPMI Setpres
Penganugerahan gelar pahlawan nasional 2025. Foto: YouTube BPMI Setpres

MonitorUpdate.com – Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada 10 tokoh pada peringatan Hari Pahlawan di Istana Negara, Jakarta, Senin, 10 November 2025. Daftar penerima tahun ini memunculkan kontras yang kuat: dari Gus Dur, tokoh demokrasi dan pluralisme, hingga Soeharto, presiden Orde Baru yang banyak dikaitkan dengan represi politik dan pelanggaran HAM.

Upacara dihadiri Wakil Presiden Gibran Rakabuming, sejumlah pimpinan lembaga negara, serta jajaran menteri Kabinet Merah Putih. Prabowo memimpin prosesi mengheningkan cipta sebelum penganugerahan.

“Marilah kita mengenang arwah para pahlawan yang telah memberi segala-galanya agar kita bisa hidup merdeka,” kata Prabowo dalam sambutannya.

Penganugerahan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2025. Pemerintah menyebut gelar diberikan atas jasa luar biasa para tokoh dalam perjuangan, pendidikan, diplomasi, atau kontribusi politik mereka terhadap bangsa.

Namun, komposisi nama dalam daftar penerima ini mengundang perbincangan. Gus Dur, misalnya, dikenal sebagai presiden keempat yang berperan dalam pembongkaran kultur otoritarian pasca-Orde Baru. Di saat yang sama, Soeharto—yang rezimnya digulingkan pada 1998—juga ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Demikian pula Jenderal Sarwo Edhie Wibowo yang namanya melekat dengan operasi militer 1965–1966.

Selain tokoh politik, pemerintah juga menetapkan Marsinah, aktivis buruh yang tewas pada 1993, sebagai pahlawan nasional. Figur ini pernah menjadi simbol perlawanan terhadap represi industrial pada era Orde Baru. Penetapan Marsinah berdampingan dengan Soeharto menimbulkan ironi sejarah tersendiri dalam ruang publik.

Berikut daftar lengkap penerima gelar pahlawan nasional 2025:
1. K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) – Perjuangan politik dan pendidikan Islam
2. Jenderal Besar TNI H. M. Soeharto – Perjuangan bersenjata dan politik
3. Marsinah – Perjuangan sosial dan kemanusiaan
4. Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja – Perjuangan hukum dan politik
5. Hajjah Rahmah El Yunusiyyah – Perjuangan pendidikan Islam
6. Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo – Perjuangan bersenjata
7. Sultan Muhammad Salahuddin – Perjuangan pendidikan dan diplomasi
8. Syaikhona Muhammad Kholil – Perjuangan pendidikan Islam
9. Tuan Rondahaim Saragih – Perjuangan bersenjata
10. Zainal Abidin Syah – Perjuangan politik dan diplomasi

Hingga siang ini, respons akademisi, organisasi buruh, dan kelompok hak asasi manusia mulai bermunculan. Sebagian pihak menilai pemerintah tengah mendorong rekonsiliasi sejarah. Sebagian lainnya memandang langkah ini berpotensi melunturkan upaya kritik terhadap kekuasaan masa lalu.

Pemerintah belum menanggapi kritik tersebut secara resmi. (MU01)

 

Share this article