Gen Z Banyak Salah Jurusan dan Salah Arah Kerja, Ini Peringatan Penting sebelum Terlambat

Ilustrasi Freepic
Ilustrasi Freepic

MonitorUpdate.com — Tekanan orang tua, tren media sosial, hingga ketakutan akan masa depan membuat banyak generasi Z (Gen Z) mengambil keputusan besar tanpa pemahaman matang. Mulai dari memilih jurusan kuliah hingga menentukan jenis pekerjaan, tidak sedikit yang akhirnya merasa salah langkah dan kehilangan arah.

Fenomena salah jurusan dan bekerja tanpa tujuan kian jamak ditemui di kalangan Gen Z. Bukan karena kurang kemampuan, melainkan akibat keputusan awal yang diambil tanpa proses mengenali diri sendiri secara utuh.

Pengamat pendidikan dan pengembangan diri, Mohamad Ramli Nugraha, menilai kondisi ini perlu disikapi serius. Menurutnya, banyak anak muda terjebak pada pilihan yang tampak menjanjikan secara sosial, tetapi tidak selaras dengan kapasitas dan karakter personal.

Baca Juga: Gaya Hidup Self-Reward Gerus Keuangan Gen Z, Dana Darurat Terancam

“Minat bukan soal apa yang terlihat keren di media sosial. Minat adalah aktivitas yang bisa dijalani berulang tanpa menimbulkan kelelahan mental,” ujarnya dalam catatan tertulis yang diterima Monitor Update, Kamis (hari ini).

Ia menekankan, langkah paling mendasar sebelum memilih jurusan atau pekerjaan adalah mengenali diri sendiri, termasuk memahami apa yang membuat seseorang bertahan, berkembang, dan tetap termotivasi dalam jangka panjang.

Ramli juga mengingatkan agar Gen Z mampu membedakan antara hobi dan arah profesional. Tidak semua hal yang disukai layak dijadikan pekerjaan utama. Dunia kerja, kata dia, sarat dengan target, tekanan, dan tanggung jawab yang kerap jauh dari bayangan ideal.

“Banyak yang menyukai sesuatu sebagai hiburan, tetapi belum tentu siap menjalaninya sebagai profesi,” jelasnya.

Selain itu, kesalahan umum lain adalah memilih jurusan atau pekerjaan hanya berdasarkan nama dan label, tanpa memahami aktivitas nyata di baliknya. Padahal, realitas dunia kuliah dan kerja sering kali sangat berbeda dari ekspektasi awal.

“Akibatnya, banyak mahasiswa dan pekerja muda mengalami culture shock dan kehilangan motivasi karena tidak sesuai dengan bayangan,” tambah Ramli.

Ia juga menilai Gen Z tidak perlu takut memilih jalur yang tidak populer. Tren, menurutnya, bersifat sementara dan bisa berubah cepat. Sementara pilihan yang tepat justru adalah yang dapat dijalani secara konsisten dan relevan dengan nilai pribadi.

Terkait peran orang tua dan lingkungan, Ramli menegaskan pentingnya mendengar masukan tanpa menyerahkan keputusan sepenuhnya.

“Masukan penting, tetapi hidup dijalani sendiri. Keputusan karena paksaan sering berujung penyesalan,” katanya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa memilih jurusan atau pekerjaan bukan keputusan sekali seumur hidup. Dunia dan manusia terus berubah. Banyak Gen Z yang pada akhirnya berpindah bidang, menggabungkan keahlian, atau membangun jalur karier baru.

“Yang terpenting bukan memilih yang paling benar hari ini, tetapi memilih yang memungkinkan belajar, bertumbuh, dan beradaptasi,” ujarnya.

Ramli menutup dengan pesan agar Gen Z fokus pada proses, bukan semata hasil. Kesuksesan, kata dia, bukan soal kecepatan, melainkan ketahanan dalam menghadapi proses panjang yang tidak selalu nyaman.

“Memilih arah hidup bukan tentang menjawab semua pertanyaan sekarang, tetapi membangun fondasi untuk menghadapi perubahan di masa depan,” pungkasnya. (MU01)

Share this article