Ahli Gizi Respons Pernyataan Menkes soal Konsumsi Buah: “Jangan Disamakan dengan Gula Darah”

Menkes Budi Gunadi Sadikin usai Rakor Penanggulangan KLB pada Program MBG di Kemenkes, Kamis (2/10/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Menkes Budi Gunadi Sadikin usai Rakor Penanggulangan KLB pada Program MBG di Kemenkes, Kamis (2/10/2025). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

MonitorUpdate.com – Imbauan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin agar tidak makan buah setiap hari bila tidak rutin berolahraga ramai diperbincangkan publik dan dikomentari langsung ahli gizi masyarakat.

Menkes melalui akun Instagram pribadinya kembali menyampaikan edukasi kesehatan, dikutip Rabu (3/12). Dalam unggahan video tersebut, ia membahas pilihan buah berdasarkan kadar gula dan kebutuhan kalori bagi pelari.

Menurut Budi, bagi pelari yang membutuhkan energi tinggi, pisang bisa menjadi pilihan tepat. Sementara itu, ia menyarankan buah dengan “kalori dan gula rendah” seperti semangka, stroberi, dan alpukat bagi individu yang ingin fokus pada vitamin dan serat. Namun, satu pernyataannya memantik atensi netizen dan para ahli.

“Kalau larinya enggak tiap hari, jangan makan buahnya tiap hari,” ujar Budi dalam video tersebut.

Pernyataan ini segera mengundang tanggapan dari Ahli Gizi Masyarakat, Dokter Tan Shot Yen. Melalui akun Instagram pribadinya, Tan memberikan koreksi dengan penjelasan ilmiah terkait indeks glikemik (GI) dan beban glikemik (glycemic load/GL), dua konsep penting dalam memahami pengaruh buah terhadap kadar gula darah.

“Sebetulnya bagi orang sehat pun buah apa saja nggak masalah. Apalagi dimakan setelah makan utama seperti kebiasaan pada umumnya. Sebab kita punya istilah glycemic load, bukan hanya indeks glikemik,” tulis Tan dengan nada sopan namun tegas.

Tan menjelaskan bahwa keberadaan lemak dan serat dari makanan utama dapat memperlambat penyerapan glukosa sehingga konsumsi buah tidak otomatis melonjakkan gula darah. Ia menekankan bahwa fruktosa dalam buah memiliki metabolisme berbeda dibandingkan glukosa murni sehingga tidak dapat disamakan sebagai pemicu lonjakan gula darah cepat.

Budi kemudian menanggapi komentar tersebut. “Asiap dokter favorit kita semua, terima kasih tambahan informasinya,” tulis Menkes membalas komentar Tan.

Sejumlah pemerhati gizi melihat perdebatan ringan ini sebagai momentum edukasi publik. Informasi yang viral dinilai dapat mendorong masyarakat memahami aspek ilmiah konsumsi buah, termasuk glycemic load, peran serat, dan waktu konsumsi, daripada sekadar menghindari buah karena dianggap “tinggi gula”. (MU01)

Share this article