MonitorUpdate.com — Minggu pertama di awal 2026 kerap menjadi momen refleksi bagi banyak generasi muda. Di satu sisi, kebutuhan uang tambahan semakin mendesak. Di sisi lain, tubuh dan pikiran masih kelelahan setelah tekanan pekerjaan utama sepanjang pekan.
Fenomena ini kian terasa di kalangan Gen Z, terutama di tengah paparan media sosial yang menampilkan gaya hidup “produktif tanpa henti” ala CEO muda dan pekerja 24 jam. Istirahat seolah diposisikan sebagai kemewahan, bahkan kelemahan.
Padahal, realitas finansial generasi muda hari ini menuntut pendekatan yang lebih realistis. Kebutuhan akan extra cash tidak bisa dihindari, namun menjaga kesehatan mental dan fisik juga menjadi keharusan. Di sinilah konsep bisnis sampingan atau side hustle mulai didefinisikan ulang.
Baca Juga: Gen Z Sambut 2026 dengan Lebih Realistis: Stabilitas Jadi Prioritas di Tengah Tekanan Ekonomi
Alih-alih membangun startup besar di akhir pekan, tren terbaru justru mengarah pada micro-business yang fleksibel, minim tekanan, dan anti-burnout. Prinsip real-life finance menempatkan bisnis sampingan bukan sebagai ambisi besar, melainkan penopang kebutuhan kecil—mulai dari biaya nongkrong hingga langganan layanan digital.
Salah satu bentuk side hustle yang mulai banyak dipilih adalah jastip (jasa titip) skala lingkungan. Aktivitas sederhana seperti berbelanja ke pasar modern, toko roti populer, atau pusat perbelanjaan dimanfaatkan untuk menawarkan jasa titip kepada tetangga kos atau warga sekitar. Tanpa modal stok barang, keuntungan kecil per transaksi dinilai cukup untuk menutup ongkos transportasi dan konsumsi harian.
Pilihan lain datang dari monetisasi hobi digital ringan. Jasa edit foto kilat, misalnya, kini banyak dibutuhkan pelaku UMKM untuk keperluan promosi. Paket sederhana seperti edit lima foto produk dengan tarif puluhan ribu rupiah dapat diselesaikan dalam waktu singkat menggunakan ponsel, tanpa mengganggu waktu istirahat.
Selain itu, decluttering berbayar juga menjadi alternatif yang semakin relevan. Menjual barang preloved—mulai dari pakaian, buku, hingga aksesori—melalui platform e-commerce atau media sosial terbukti mampu menghasilkan uang tunai cepat, sekaligus merapikan ruang pribadi.
Pengamat gaya hidup digital menilai, pola ini mencerminkan perubahan cara pandang generasi muda terhadap produktivitas. Uang tambahan tetap penting, namun tidak lagi ditempatkan di atas kesehatan.
“Side hustle seharusnya membantu hidup, bukan menambah beban,” demikian pandangan yang banyak disuarakan di awal 2026.
Dengan memilih peluang yang selaras dengan hobi dan ritme hidup, generasi muda dinilai dapat tetap produktif tanpa mengorbankan kewarasan. Pekerjaan utama menopang kebutuhan besar, sementara bisnis sampingan santai menjadi sumber kebahagiaan kecil yang berkelanjutan.
Di tengah Minggu awal tahun, pesan ini menjadi relevan: produktif boleh, lelah jangan dipelihara. (MU01)










