Fenomena ‘Healing’ Gen Z Dinilai Makin Mengkhawatirkan, Data Ungkap Siklus Stres–Belanja Impulsif

Ilustrasi: portrait young Asian man holding credit card and shopping bag. Sumber: Vecteezy.
Ilustrasi: portrait young Asian man holding credit card and shopping bag. Sumber: Vecteezy.

MonitorUpdate.com – Di tengah meningkatnya kesadaran soal kesehatan mental, perilaku konsumtif Gen Z justru memunculkan ironi baru: “healing” berubah menjadi dalih belanja impulsif yang memperburuk kondisi finansial maupun psikologis mereka.

Kesadaran generasi Z terhadap isu kesehatan mental meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, sejumlah temuan menunjukkan bahwa kesadaran tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan pilihan solusi yang diambil. Alih-alih mencari pertolongan medis, sebagian besar Gen Z cenderung menjadikan istilah “healing” sebagai pembenaran untuk aktivitas konsumtif, mulai dari membeli produk mewah, tiket konser, hingga staycation.

Baca JugaBooming Investasi Anak Muda Meningkat, BI–OJK Ingatkan Risiko dan Rayuan ‘Cuan Instan’

Sejumlah pengamat menilai istilah healing telah bergeser menjadi strategi pemasaran yang agresif dan memanfaatkan kerentanan emosional anak muda. Konsumsi impulsif yang dibenarkan dengan dalih pemulihan psikologis justru memicu kecemasan baru karena membuat mereka semakin tertekan secara finansial.

“Jika sumber stres utama adalah kekurangan uang, sulit diterima secara logis ketika solusinya justru menghabiskan lebih banyak uang,” tulis analis sosial Mohamad Ramli Nugraha dalam catatannya, Jumat (6/12/2025).

Temuan itu sejalan dengan Deloitte Global 2024 Gen Z and Millennial Survey. Survei tersebut mencatat 34 persen Gen Z menempatkan biaya hidup sebagai kekhawatiran terbesar, mengalahkan isu pengangguran hingga kesehatan mental itu sendiri. Bahkan, 56 persen Gen Z mengaku hidup dari gaji ke gaji (paycheck to paycheck).

Di tengah tekanan tersebut, perilaku “self-reward” yang semakin marak dinilai menciptakan siklus konsumtif yang merusak: stres karena pendapatan yang pas-pasan, kemudian membelanjakan uang untuk meredakan emosi sesaat, lalu kembali stres akibat kondisi finansial yang makin buruk.

Belanja ‘Healing’ Lebih Mahal dari Konsultasi Medis
Tren konser tahun 2025 menjadi salah satu contoh paling mencolok. Tiket konser Maroon 5 di Jakarta pada Februari 2025 dibanderol antara Rp1,45 juta hingga Rp6 juta. Sementara tiket Green Day dipatok mulai Rp1,58 juta. “Angka itu bertolak belakang dengan keluhan bahwa konsultasi psikolog terlalu mahal,” ungkap Ramli.

Padahal, biaya konsultasi psikolog di Jabodetabek berkisar Rp150.000 hingga Rp500.000 per sesi. Jika menggunakan BPJS Kesehatan, layanan psikologi dan psikiatri bahkan gratis, asalkan mengikuti alur rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama.

“Data menunjukkan bahwa mahal hanyalah alasan yang dibuat untuk membenarkan pola konsumtif,” ujarnya.

Seruan Ubah Pola Pikir Jelang 2026
Para analis memperingatkan bahwa tahun 2026 diperkirakan membawa tantangan ekonomi global yang lebih berat. Karena itu, pola konsumsi Gen Z dinilai perlu berubah agar tidak terjebak dalam lingkaran utang dan kecemasan.

Ada tiga rekomendasi yang disampaikan Ramli.
Pertama, menghentikan perilaku doom spending, yakni belanja impulsif dengan dalih kesehatan mental. Kedua, memanfaatkan fasilitas medis secara optimal, termasuk layanan kesehatan jiwa melalui BPJS. Ketiga, memperkuat disiplin finansial dengan membangun dana darurat sebagai fondasi stabilitas psikologis.

“Industri punya kepentingan memonetisasi rapuhnya emosi konsumen. Karena itu, penyembuhan sejati seharusnya diperoleh di ruang praktik psikolog, bukan di keranjang belanja,” tulisnya.

Laporan ini menjadi pengingat bahwa kesadaran akan kesehatan mental harus dibarengi dengan keputusan finansial yang rasional agar tidak menjadi bumerang bagi generasi yang tengah menghadapi tekanan hidup paling tinggi dalam satu dekade terakhir. (MU01)

Share this article