MonitorUpdate.com – Fenomena “rombongan jarang beli” (Rojali) dan “rombongan hanya nanya” (Rohana) yang tengah viral di media sosial bukan sekadar tren kocak. Di balik istilah jenaka itu, tersimpan potret getir masyarakat yang semakin terjepit secara ekonomi.
Anggota Komisi VI DPR RI, Mufti Anam, menilai fenomena ini merupakan sinyal serius melemahnya daya beli masyarakat. Ia menyebut Rojali dan Rohana sebagai bentuk jeritan sunyi rakyat yang berusaha bertahan di tengah tekanan hidup.
“Kalau rakyat mulai ramai-ramai ke pusat perbelanjaan hanya untuk lihat-lihat, tanpa membeli, itu tanda ekonomi sedang tidak baik-baik saja,” kata Mufti kepada Parlementaria, Rabu (30/7/2025).
Menurut politisi PDI Perjuangan itu, di tengah lesunya konsumsi, justru muncul kebijakan pemerintah yang semakin membebani rakyat. Ia menyebut rencana pajak influencer, pemajakan UMKM daring, hingga pemblokiran rekening tidak aktif sebagai contoh kebijakan yang kontra-produktif.
“Rakyat hari ini tidak pegang uang, tapi pemerintah malah sibuk bikin aturan yang justru menakut-nakuti mereka yang sedang berusaha bangkit,” ujarnya.
Fenomena Rojali dan Rohana, lanjut Mufti, tak hanya berdampak pada psikologi publik, tetapi juga membuat pelaku usaha ritel dan UMKM waswas. Banyaknya pengunjung yang hanya melihat-lihat tanpa membeli mulai menggerus optimisme pelaku usaha.
“Dampaknya nyata. UMKM makin lesu, perputaran ekonomi lambat, dan pertumbuhan ekonomi bisa terganggu kalau ini terus dibiarkan,” ujar legislator asal Jawa Timur II itu.
Mufti pun mendesak pemerintah untuk tidak melihat sektor ritel secara terpisah, melainkan sebagai bagian dari mata rantai ekonomi nasional. Ia menekankan perlunya kebijakan yang mendorong semangat rakyat kecil, bukan mematahkan harapan mereka.
“Negara terlihat makin galak ke rakyat kecil, tapi lembek ke para perampok besar. Kita harus berhenti bikin kebijakan yang bikin rakyat makin berat napasnya,” ucapnya.
Ia mengingatkan, fenomena Rojali dan Rohana bukan sekadar konten viral di media sosial, melainkan cermin keresahan masyarakat yang makin terdesak.
“Ini bukan lucu-lucuan. Ini wajah Indonesia hari ini—yang gelisah, yang bingung mau belanja atau bayar listrik. Pemerintah harus segera bertindak sebelum semuanya makin terjun bebas,” pungkas Mufti.
(mu01)