MonitorUpdate.com – Penulis dan pengamat sosial digital, Rizki Ilma Akbar Kusmana, menilai budaya self-reward yang kian mengakar di kalangan generasi Z (Gen Z) perkotaan mulai menimbulkan persoalan serius pada ketahanan keuangan pribadi. Di balik maraknya kebiasaan jajan harian, data terbaru menunjukkan adanya ancaman nyata terhadap dana darurat anak muda.
Riset OCBC Financial Fitness Index 2024 mencatat, 39 persen Gen Z menabung bukan untuk dana darurat, melainkan demi kebutuhan gaya hidup seperti liburan, konser, atau pembelian gawai. Pergeseran prioritas ini dinilai melemahkan fondasi keuangan jangka panjang generasi produktif.
Dana Darurat Gen Z Kian Rapuh
Masalah tersebut diperkuat laporan Better Money Habits Gen Z Report 2025 yang dirilis Bank of America. Laporan ini menyebutkan, 55 persen Gen Z tidak memiliki dana darurat yang cukup untuk menutup kebutuhan hidup selama tiga bulan, batas minimum yang disarankan dalam perencanaan keuangan.
Kondisi ini membuat Gen Z lebih rentan terhadap guncangan ekonomi, mulai dari kehilangan pekerjaan hingga kebutuhan mendesak yang datang tiba-tiba.
Jajan Harian, Kebocoran Finansial Nyata
Pengeluaran kecil yang dilakukan berulang sering kali luput dari kesadaran. Sebagai ilustrasi, kopi seharga Rp25 ribu yang dibeli selama 20 hari kerja setara dengan Rp500 ribu per bulan.
Nilai tersebut hampir menyamai setengah target tabungan minimum bulanan pekerja pemula, dan jika berlangsung konsisten, akan menggerus kemampuan menabung secara signifikan.
FoMO dan Kepuasan Instan
Dari sisi psikologis, perilaku belanja impulsif Gen Z juga dipengaruhi faktor emosional. Studi dalam Psikologia: Jurnal Psikologi (Januari 2025) menemukan bahwa belanja impulsif berkorelasi kuat dengan Fear of Missing Out (FoMO) dan kecemasan sosial.
Sementara itu, Jurnal Media Akademik (September 2025) mencatat kecenderungan Gen Z terhadap kepuasan instan (instant gratification), di mana belanja kerap dijadikan mekanisme koping cepat untuk mengatasi stres, bosan, atau tekanan kerja.
Saatnya Meninjau Ulang Makna Self-Reward
Self-reward sejatinya sah dilakukan jika berbasis pencapaian yang jelas. Namun ketika dijadikan pelarian dari kelelahan rutin, praktik ini justru mencerminkan lemahnya kontrol impuls.
Gen Z didorong untuk mulai membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta membangun dana darurat sebagai fondasi dasar menghadapi ketidakpastian ekonomi. (MU01)










