MonitorUpdate.com — Banyak anak muda, khususnya Generasi Z (Gen Z), mengeluhkan kondisi tubuh yang mudah lelah, lesu, dan cepat mengeluh, meski tidak menjalani aktivitas fisik yang berat. Fenomena ini kian sering muncul di ruang publik dan didukung oleh berbagai riset yang menunjukkan adanya kelelahan mental akibat gaya hidup digital yang nyaris tanpa jeda.
Di era always connected, Gen Z hidup dalam kondisi hampir tidak pernah benar-benar offline. Sejak bangun tidur hingga kembali terlelap, gawai menjadi pusat aktivitas—mulai dari berkomunikasi, mengakses hiburan, belajar, bekerja, hingga membangun citra diri di media sosial.
Sejumlah data menunjukkan intensitas penggunaan internet dan smartphone pada Gen Z jauh melampaui rata-rata populasi umum. Survei yang dirangkum GoodStats mencatat, kelompok usia 15–24 tahun di Indonesia menghabiskan rata-rata 7 jam 38 menit per hari untuk berinternet, dengan media sosial sebagai aktivitas paling dominan.
Baca Juga: Hidup Nyaris Tak Pernah Offline, Gen Z Habiskan hingga 7 Jam Sehari di Smartphone
Angka tersebut bahkan bisa lebih tinggi. Studi akademik yang dipublikasikan dalam Merdeka: Jurnal Ilmiah menyebutkan sebagian Gen Z menghabiskan lebih dari 9 jam per hari menggunakan smartphone, terutama untuk mengakses media sosial dan platform digital lainnya.
Fenomena serupa juga terjadi secara global. Laporan yang dikutip Antara News menyebutkan Gen Z di Amerika Serikat menggunakan ponsel pintar rata-rata 6 jam 18 menit per hari—lebih tinggi dibandingkan generasi lain.
Tingginya durasi layar ini memunculkan bentuk kelelahan yang tidak kasat mata. Bukan kelelahan fisik, melainkan kelelahan mental. Otak dipaksa terus bekerja tanpa jeda akibat notifikasi, pesan instan, arus informasi, serta konsumsi konten digital yang tidak pernah berhenti.
Dalam situasi tersebut, waktu istirahat kerap gagal berfungsi sebagai pemulihan. Meski tubuh sedang duduk atau berbaring, pikiran tetap aktif merespons rangsangan digital. Akibatnya, rasa lelah justru menumpuk.
Tekanan sosial di ruang digital turut memperberat kondisi ini. Media sosial menghadirkan standar produktivitas, kesuksesan, dan kebahagiaan yang terus dipertontonkan. Banyak anak muda merasa harus selalu terlihat aktif, berkembang, dan baik-baik saja.
Tak sedikit dari mereka yang akhirnya memendam kelelahan dan merasa bersalah ketika berhenti sejenak, meski tubuh dan pikirannya membutuhkan jeda. Ironisnya, di tengah keterhubungan digital yang intens, sebagian Gen Z justru mengalami kesepian.
Interaksi daring yang masif tidak selalu berbanding lurus dengan kedekatan emosional. Ketika kelelahan mental datang, tidak semua memiliki ruang aman untuk berbagi secara mendalam.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kelelahan Gen Z bukan semata persoalan kebiasaan individu, melainkan refleksi dari pola hidup kolektif di era digital. Riset global mencatat, rata-rata manusia menghabiskan hampir 4 jam 49 menit per hari menggunakan smartphone, dengan Gen Z berada di atas rata-rata tersebut.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa tantangan utama Gen Z hari ini bukan hanya soal manajemen waktu, tetapi juga pengelolaan perhatian dan energi mental. Memberi ruang untuk berhenti sejenak, membatasi paparan digital, serta keluar dari mode siaga berkelanjutan dinilai penting untuk menjaga keseimbangan hidup.
Lelah yang dirasakan banyak anak muda hari ini bukanlah tanda kemalasan, melainkan sinyal bahwa kehidupan yang tak pernah benar-benar offline menuntut kesadaran baru tentang batas, istirahat, dan kehadiran diri secara utuh. (MU01)










