MonitorUpdate.com — Cara Generasi Z menyambut tahun baru menunjukkan perubahan signifikan. Jika awal 2025 diwarnai semangat bangkit dan target ambisius, memasuki 2026 anak muda justru memilih sikap lebih realistis dengan menempatkan stabilitas sebagai prioritas utama.
Perbedaan cara pandang ini mencerminkan respons Gen Z terhadap dinamika ekonomi dan dunia kerja sepanjang 2025. Tahun lalu sempat dipersepsikan sebagai momentum pemulihan, dengan resolusi yang berfokus pada kemajuan karier, peningkatan pendapatan, dan pencapaian personal. Namun, kondisi di lapangan tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Penulis dan pengamat isu sosial, Mohamad Ramli Nugraha, menilai perubahan sikap tersebut berkaitan erat dengan tantangan struktural yang masih dihadapi generasi muda, terutama dalam sektor ketenagakerjaan.
Baca Juga: Gen Z Mulai Melambat: Fenomena Slow Living Jadi Respons Diam atas Tekanan Hidup Serba Cepat
“Sepanjang 2025, banyak anak muda dihadapkan pada realitas pasar kerja yang kompetitif, kontrak jangka pendek, serta tekanan biaya hidup yang terus meningkat. Situasi ini secara alami memengaruhi cara mereka memandang masa depan,” ujar Ramli kepada MonitorUpdate.com, Selasa (31/12/2025).
Menurutnya, resolusi besar yang sempat mengemuka di awal 2025 perlahan disesuaikan. Ambisi tetap ada, tetapi disusun dengan target yang lebih terukur dan mempertimbangkan keberlanjutan hidup.
Memasuki 2026, Gen Z cenderung memaknai tahun baru sebagai upaya menjaga keseimbangan. Bertahan di pekerjaan, mengelola stres, serta menjaga kesehatan mental menjadi fokus yang lebih menonjol dibanding mengejar lompatan karier dalam waktu singkat.
“Ini bukan penurunan semangat, melainkan penyesuaian. Gen Z belajar membaca kondisi dan menyadari bahwa stabilitas adalah fondasi penting sebelum melangkah lebih jauh,” kata Ramli.
Pergeseran ini juga tercermin di media sosial. Jika awal 2025 dipenuhi konten resolusi dan motivasi agresif, menjelang 2026 narasi yang muncul cenderung lebih reflektif—tentang proses bertahap, penerimaan diri, dan pentingnya menjaga keseimbangan hidup.
Ramli menilai fenomena tersebut dapat dibaca sebagai sinyal sosial yang patut diperhatikan oleh para pemangku kebijakan. Menurutnya, generasi muda membutuhkan ekosistem kerja yang lebih adaptif, memberi ruang tumbuh, serta memperhatikan aspek keberlanjutan dan kesehatan mental.
“Tahun 2025 menjadi fase mencoba bangkit, sementara 2026 lebih pada upaya menjaga agar tetap stabil. Ini gambaran generasi yang sedang beradaptasi, bukan kehilangan arah,” ujarnya.
Di tengah ketidakpastian global dan perubahan dunia kerja yang cepat, Gen Z dinilai tengah membangun pendekatan hidup yang lebih berhitung. Mereka tidak meninggalkan mimpi, tetapi menyusunnya dengan kesadaran akan batas dan kondisi nyata yang dihadapi. (MU01)










