MonitorUpdate.com — Peringatan Hari Ibu yang jatuh setiap 22 Desember kembali mengubah linimasa media sosial menjadi ruang penuh nostalgia. Foto-foto lawas bersama ibu bermunculan, disertai keterangan panjang bernada puitis, permohonan maaf, dan ungkapan cinta yang menyentuh emosi.
Namun di balik banjir unggahan tersebut, terselip ironi yang jarang dibicarakan secara terbuka. Bagi banyak Generasi Z dan Milenial Indonesia, mengucapkan kalimat sederhana “Aku sayang Ibu” secara langsung—tatap mata, tanpa layar ponsel—justru terasa jauh lebih sulit dibanding menuliskannya di media sosial.
Fenomena ini bukan sekadar soal kecanggungan personal. Ada pola sosial dan budaya yang membentuk cara generasi muda Indonesia mengekspresikan kasih sayang, khususnya kepada orang tua.
Baca Juga: Peringati Hari Ibu, Pj Gubernur Banten Ajak Kaum Perempuan Berdaya dan Inspiratif
Alih-alih verbal, ekspresi cinta kerap diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata. Menabung berbulan-bulan demi membelikan perhiasan, melunasi tagihan listrik rumah tanpa diminta, hingga memastikan kebutuhan dapur terpenuhi, menjadi cara yang dianggap lebih “aman” dan bermakna.
“Mulut terkunci, dompet terbuka” bukanlah cermin generasi materialistis. Pola ini justru berakar dari sistem pendidikan paling awal yang dialami manusia: keluarga.
Sebelum mengenal sekolah formal, anak-anak Indonesia tumbuh dalam “sekolah kehidupan” yang menjadikan Ibu sebagai guru pertama. Dalam fase emas perkembangan otak anak, terutama pada usia balita, peran ibu menjadi sentral—bukan melalui ceramah atau teori, melainkan lewat teladan dan tindakan.
Kasih sayang diajarkan lewat pelukan saat jatuh, lewat potongan buah yang diletakkan diam-diam di meja belajar, atau lewat masakan hangat setelah kehujanan. Pendidikan emosional semacam ini membentuk pola komunikasi non-verbal yang kuat.
Antropolog Edward T. Hall menyebut pola ini sebagai bagian dari high-context culture, budaya di mana pesan lebih sering disampaikan melalui konteks, tindakan, dan isyarat, bukan kata-kata eksplisit. Dalam banyak keluarga Indonesia, emosi jarang diartikulasikan secara langsung, tetapi dihadirkan melalui perbuatan sehari-hari.
Psikolog Gary Chapman, melalui konsep The 5 Love Languages, menjelaskan bahwa setiap individu memiliki bahasa cinta dominan. Dalam konteks Indonesia, khususnya Asia, bahasa cinta berupa acts of service atau pelayanan kerap lebih dominan dibanding words of affirmation.
Kondisi ini diperkuat oleh konsep filial piety—bakti kepada orang tua—yang menempatkan keberhasilan anak sebagai tolok ukur kebahagiaan orang tua. Tidak heran jika transferan rutin, hadiah bernilai, hingga pemberangkatan ibadah dipersepsikan sebagai representasi paling sah dari rasa sayang.
Bagi anak rantau, tindakan tersebut juga menjadi kompensasi atas jarak dan keterbatasan kehadiran fisik. Barang dan fasilitas menjadi “perpanjangan tangan” dari kehadiran yang tak selalu bisa diwujudkan.
Di tengah euforia Hari Ibu, realitas ini kerap luput dari perbincangan. Banyak anak merasa gagal mengekspresikan cinta karena tak mampu menuliskannya secara indah atau mengucapkannya dengan lantang.
Padahal, dalam konteks budaya Indonesia, rasa canggung justru menjadi penanda keberhasilan didikan seorang ibu. Cinta yang bekerja dalam diam, hadir lewat tanggung jawab dan perhatian, tetap memiliki makna yang utuh.
Maka, di Hari Ibu ini, ekspresi kasih tak selalu harus mengikuti standar media sosial. Membetulkan ponsel ibu yang rusak, memijat kakinya sepulang bekerja, atau membawakan makanan kesukaannya, tetaplah bahasa cinta yang sah.
Sebab bagi banyak ibu di Indonesia, melihat anaknya pulang dengan sehat dan menyantap masakan rumah dengan lahap sering kali berbicara lebih lantang daripada ribuan kata cinta yang tertulis. (MU01)










