MonitorUpdate.com — Kehidupan Generasi Z kian melekat dengan layar smartphone. Sejak bangun tidur hingga kembali terlelap, gawai menjadi pusat aktivitas utama—mulai dari komunikasi, hiburan, hingga pembentukan identitas diri. Fenomena ini tak lagi sekadar kesan sosial, melainkan tercermin jelas dalam berbagai riset global terbaru.
Sejumlah laporan internasional menunjukkan durasi penggunaan smartphone manusia terus meningkat. Data SQ Magazine mencatat, pada 2025, rata-rata penggunaan smartphone secara global mencapai sekitar 4,8 hingga 4,9 jam per hari, mencakup aktivitas media sosial, komunikasi digital, dan konsumsi konten daring.
Baca Juga : Gaya Hidup Self-Reward Gerus Keuangan Gen Z, Dana Darurat Terancam
Namun, angka tersebut melonjak signifikan pada kelompok usia muda. Laporan kompilasi statistik dari Try Timeout menunjukkan bahwa kelompok usia 18–24 tahun, yang didominasi Generasi Z, menghabiskan waktu hingga 7,3 jam per hari di smartphone. Sebagian besar waktu itu terserap untuk media sosial, video pendek, pesan instan, serta hiburan digital.
Bagi Gen Z, dunia digital bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan ruang hidup itu sendiri. Interaksi pertemanan, pembelajaran, hiburan, hingga ekspresi diri berlangsung hampir sepenuhnya secara daring. Aktivitas scrolling menjadi rutinitas yang kerap dilakukan tanpa tujuan jelas dan berlangsung secara refleks.
Kondisi ini membuat konsep “offline” semakin terasa asing. Tidak terhubung kerap dimaknai sebagai tertinggal informasi, bukan sebagai waktu istirahat. Notifikasi yang terus bermunculan menciptakan dorongan untuk selalu responsif, meskipun secara mental pengguna mengalami kelelahan.
Sejumlah riset juga menggarisbawahi dampak paparan layar berlebih terhadap kondisi kognitif dan psikologis. Priori Data mencatat, rata-rata orang dewasa menghabiskan sekitar 4 jam 43 menit per hari di smartphone, dengan tren peningkatan paling tajam terjadi pada generasi muda.
Arus informasi yang tak pernah berhenti, ditambah tekanan untuk mengikuti tren dan opini publik, membuat sebagian Gen Z kesulitan memisahkan ruang pribadi dari ruang digital. Media sosial tak lagi sekadar ruang berbagi, tetapi juga arena pembandingan diri yang berlangsung terus-menerus.
Dalam konteks ini, smartphone dan media sosial memainkan peran besar dalam pembentukan identitas Gen Z. Apa yang diunggah, disukai, atau dihindari menjadi bagian dari citra diri di ruang publik digital. Di sisi lain, muncul dilema antara keinginan tampil autentik dan tuntutan untuk tetap relevan di hadapan algoritma serta lingkungan sosial.
Pola hidup yang nyaris tak pernah offline ini turut membentuk cara berpikir, berkomunikasi, dan memaknai relasi sosial. Meski tampak selalu terhubung, tidak sedikit Gen Z yang justru mengalami kelelahan digital.
Seiring meningkatnya kesadaran, sebagian Gen Z mulai mencoba menerapkan jeda digital. Pembatasan waktu layar, pemilihan konten secara lebih sadar, serta meluangkan waktu tanpa gawai menjadi upaya untuk menjaga keseimbangan hidup.
Berbagai riset tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama Gen Z bukan semata persoalan teknologi, melainkan kemampuan mengelola keterhubungan. Hidup yang berarti tak selalu soal terus online, tetapi juga tentang kemampuan berhenti sejenak—agar tetap hadir, bukan hanya sebagai pengguna aktif, melainkan sebagai manusia yang utuh. (MU01)










