Kalahkan Hiburan Instan, Catur Diam-Diam Jadi Tren Baru Profesional Muda 2026

Catur Jadi Tren Baru Anak Muda. Ilustrasi AI
Catur Jadi Tren Baru Anak Muda. (Foto: Ilustrasi AI)

MonitorUpdate.com – Libur panjang empat hari di pertengahan Februari 2026 tak lagi sekadar diisi agenda wisata atau maraton tontonan digital. Di tengah kejenuhan terhadap hiburan instan, semakin banyak profesional muda memilih kembali ke papan hitam-putih: catur.

Tren ini bukan sekadar romantisme permainan klasik. Data pasar global menunjukkan industri catur dunia bernilai US$3,45 miliar pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi US$3,77 miliar pada 2026. Angka tersebut menegaskan bahwa olahraga asah otak ini bukan hanya bertahan, tetapi justru bangkit di era serba digital.

Baca Juga:Prabowo Siapkan Pusat Olahraga Raksasa 500 Hektare, Targetkan Lahirnya Atlet Kelas Dunia

Pelarian dari “Scroll Fatigue”
Di tengah fenomena doom scrolling dan konsumsi konten singkat yang membuat atensi kian pendek, catur hadir sebagai antitesis. Permainan ini menuntut konsentrasi penuh, analisis mendalam, serta perhitungan risiko dalam setiap langkah.

“Bermain catur bukan sekadar mengisi waktu luang. Ini simulasi pengambilan keputusan,” tulis Rizky Ilma Akbar Kusmana dalam rilis yang diterima redaksi.

Narasi tersebut selaras dengan tren gaya hidup 2026 yang menunjukkan meningkatnya minat pada aktivitas kompetitif berbasis strategi. Sejumlah studi ilmiah menyebut permainan strategi seperti catur berkontribusi pada pengurangan stres serta menjaga fungsi kognitif, terutama bagi individu dengan tekanan kerja tinggi.

Fenomena kebangkitan ini juga tercermin di ranah digital. Platform catur daring global mencatat lebih dari 200 juta anggota terdaftar pada 2025, dengan 15–20 juta pertandingan dimainkan setiap hari. Lonjakan partisipasi ini menunjukkan catur berhasil beradaptasi dengan ekosistem digital tanpa kehilangan esensi intelektualnya.

Dari Kafe Board Game hingga Prestasi Dunia
Kebangkitan catur juga terlihat dari menjamurnya kafe papan permainan di berbagai kota besar. Tempat-tempat ini kini menjadi ruang alternatif anak muda untuk berdiskusi, berkompetisi, sekaligus membangun jejaring sosial tanpa dominasi layar gawai.

Di level prestasi, Indonesia pun tak ketinggalan. Nama Herfesa Shafira Devi, pecatur putri 16 tahun asal Sleman, mencuri perhatian publik pada 2025 setelah menjuarai turnamen tingkat Asia dan mengamankan tiket ke Piala Dunia Catur 2025. Prestasi tersebut menjadi simbol bahwa regenerasi talenta catur nasional berjalan positif.

Namun di balik capaian individu, muncul pertanyaan yang lebih luas: sejauh mana dukungan ekosistem terhadap olahraga ini? Apakah kebangkitan minat generasi muda akan diimbangi dengan pembinaan yang berkelanjutan dan kompetisi yang memadai di dalam negeri?

Catur dan Mentalitas Kerja 2026
Bagi kalangan profesional muda, catur menawarkan lebih dari sekadar hiburan. Permainan ini melatih forward thinking, manajemen risiko, serta disiplin mental—keterampilan yang relevan dengan dinamika dunia kerja 2026 yang semakin kompetitif dan berbasis data.

Setiap langkah di atas papan menjadi metafora kehidupan: keputusan yang diambil hari ini menentukan posisi beberapa langkah ke depan. Kesalahan kecil bisa berdampak sistemik.

Di tengah padatnya rutinitas dan tekanan produktivitas, memanfaatkan sisa libur panjang dengan aktivitas yang membangun kapasitas berpikir menjadi pilihan rasional. Alih-alih sekadar menggulir layar tanpa henti, catur menawarkan ruang refleksi sekaligus tantangan intelektual.

Momentum ini bisa menjadi titik balik gaya hidup generasi muda urban: dari konsumtif ke produktif, dari reaktif ke strategis.

Libur panjang mungkin hanya empat hari. Namun, langkah yang dilatih hari ini bisa menentukan strategi besar esok hari. (MU01)

Share this article