Korban Banjir dan Longsor di Tiga Provinsi Tembus 1.071 Jiwa, Ratusan Masih Hilang

Foto: BNPB
Foto: BNPB

MonitorUpdate.com — Jumlah korban meninggal dunia akibat rangkaian bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat kembali bertambah. Hingga Jumat (19/12/2025), total korban jiwa tercatat mencapai 1.071 orang, setelah tim SAR menemukan tiga jenazah baru di lokasi terdampak.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan penambahan korban tersebut terjadi dalam 24 jam terakhir seiring berlanjutnya proses pencarian di sejumlah titik rawan.

“Per hari ini jumlah korban meninggal secara total di tiga provinsi bertambah tiga orang, dari sebelumnya 1.068 menjadi 1.071 jiwa,” ujar Abdul Muhari dalam jumpa pers virtual, Jumat sore.

Baca Juga : Korban Banjir dan Longsor di Aceh, Sumut, Sumbar Tembus 1.053 Jiwa, SAR Masih Berpacu dengan Waktu

Selain korban meninggal, BNPB mencatat 185 orang masih dinyatakan hilang. Proses pencarian terus dilakukan dengan mengerahkan tim SAR gabungan, meski terkendala medan berat, cuaca yang belum sepenuhnya stabil, serta akses logistik yang terbatas di sejumlah wilayah.

Menurut Abdul Muhari, operasi pencarian dibagi ke dalam beberapa sektor untuk memaksimalkan upaya evakuasi. Di Sumatra Utara, pencarian difokuskan pada empat sektor, sementara di Sumatra Barat terbagi dalam lima sektor. Adapun di Aceh, pencarian dilakukan di enam kabupaten terdampak.

“Operasi SAR masih berlangsung dan menjadi prioritas utama, khususnya untuk menemukan korban yang masih dinyatakan hilang,” jelasnya.

Dari sisi pengungsian, jumlah warga terdampak yang masih berada di tempat pengungsian tercatat 526.868 jiwa, sedikit menurun dibandingkan hari sebelumnya yang mencapai 537.185 orang. Penurunan ini terjadi seiring sebagian pengungsi mulai kembali ke rumah masing-masing, meski sebagian wilayah masih belum sepenuhnya aman.

Namun demikian, BNPB menegaskan situasi belum sepenuhnya terkendali. Hingga hari ini, 27 kabupaten/kota di tiga provinsi tersebut masih berstatus tanggap darurat, menandakan risiko bencana lanjutan masih cukup tinggi.

Pemerintah pusat dan daerah terus diminta memperkuat koordinasi lintas sektor, tidak hanya dalam penanganan darurat, tetapi juga mitigasi dan evaluasi tata kelola wilayah rawan bencana, agar tragedi serupa tidak terus berulang. (MU01)

Share this article