MonitorUpdate.com — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan Indonesia bisa keluar dari jebakan pertumbuhan lima persen dengan menggerakkan dua mesin ekonomi sekaligus: negara dan swasta. Ia optimistis, strategi itu mampu mendorong pertumbuhan hingga 8 persen.
“Di era SBY, ketika hanya mesin swasta yang bergerak, pertumbuhan mencapai 6 persen. Di era Jokowi, ketika hanya mesin negara yang bergerak, pertumbuhan bertahan 5 persen. Ke depan, bila kedua mesin digerakkan bersama—negara dan swasta—kita optimistis bisa mencapai 8 persen,” kata Purbaya dalam acara Great Lecture bertajuk Transformasi Ekonomi Nasional: Pertumbuhan Inklusif Menuju 8 Persen di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (11/9/2025).
Baca Juga : Menkeu Pastikan TKD Tak Dipotong, Malah Berpeluang Ditambah
Purbaya menyebut konsumsi domestik yang mencapai 90 persen PDB menjadi modal besar untuk mendorong pertumbuhan di kisaran 6–6,5 persen. Untuk mengejar target lebih tinggi, ia menyiapkan langkah teknis seperti percepatan penyerapan anggaran dan kelonggaran transfer ke daerah agar belanja publik segera mengalir ke sektor riil.
Ketua Dewan Direktur GREAT Institute, Syahganda Nainggolan, menyebut publik menaruh harapan besar pada Menkeu baru ini. Menurutnya, Purbaya berbeda karena latar belakang akademis dan pendekatan komunikatif sejak hari pertama menjabat. “Kita sudah lama tak memiliki Menkeu yang sungguh-sungguh ekonom. Baru kali ini kita punya Menkeu yang belajar langsung dari Paul Romer, pemenang Nobel Ekonomi,” ujarnya.
Baca Juga : BI Pangkas Suku Bunga, Optimisme Pemulihan Ekonomi Menguat
Syahganda menilai pertumbuhan ekonomi tak boleh berhenti pada angka. Ia menekankan pentingnya keadilan agar hasil pembangunan dirasakan langsung masyarakat. “Pertumbuhan bagus saja tidak cukup. Yang penting rakyat bisa merasakan. Itulah perlunya growth through equity,” katanya.
Ia juga menyodorkan hitungan konkret. Koperasi Merah Putih diproyeksikan bisa menambah 0,5–1,2 persen pertumbuhan, sementara Program Makan Bergizi Gratis berpotensi menyumbang 0,5–1 persen. “Pertumbuhan 8 persen itu bukan wishful thinking,” tegasnya.
Plt Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Didik Madiyono, menambahkan aspek stabilitas keuangan dalam diskusi tersebut. Menurutnya, kepercayaan publik tetap terjaga di tengah dinamika politik dan ekonomi. “Per Juli 2025, LPS menjamin 643,5 juta rekening, atau 99,94 persen rekening pribadi di Indonesia, serta 15,7 juta rekening BPR-BPRS,” kata Didik.
Meski optimisme menguat, tantangan klasik masih membayangi. Bank Dunia sejak lama mengingatkan banyak negara gagal naik kelas karena terjebak pada konsumsi tanpa industrialisasi. Brasil dan Afrika Selatan menjadi contoh stagnasi, sementara Korea Selatan dan Taiwan berhasil menembus status negara maju lewat strategi industrialisasi, inovasi teknologi, dan investasi sumber daya manusia.
Indonesia kini berada di persimpangan. Target pertumbuhan 8 persen hanya bisa dicapai jika strategi mesin ganda berjalan konsisten, disertai kebijakan inklusif yang menekan ketimpangan. (MU01)








