MonitorUpdate.com — Iran resmi memiliki pemimpin tertinggi baru. Majelis Pakar yang terdiri dari puluhan ulama senior menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.
Penunjukan Mojtaba menandai babak baru politik Iran di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Di saat yang sama, keputusan itu juga memicu kontroversi karena dianggap membuka kemungkinan suksesi kekuasaan yang bersifat dinasti dalam Republik Islam Iran.
Ulama Senior Pilih Mojtaba
Salah satu anggota Majelis Pakar Iran, Mohsen Heidari Alekasir, menyebut pemimpin baru dipilih sesuai arahan mendiang Ali Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran haruslah sosok yang “dibenci oleh musuh”.
“Bahkan Setan Besar telah menyebut namanya,” kata Alekasir dalam sebuah pernyataan video yang beredar pada Minggu.
Pernyataan itu merujuk pada komentar Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang sebelumnya menyebut Mojtaba sebagai sosok yang “tidak dapat diterima” bagi Washington.
Meski demikian, Majelis Pakar tetap melanjutkan sidang pemilihan pemimpin tertinggi Iran di tengah tekanan dan ancaman dari Amerika Serikat.
Garda Revolusi Langsung Nyatakan Loyalitas
Tidak lama setelah penunjukan diumumkan, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan kesetiaan penuh kepada Mojtaba Khamenei.
Dalam pernyataannya, IRGC menyatakan siap menjaga nilai Revolusi Islam serta melindungi warisan politik Imam Ruhollah Khomeini dan Ali Khamenei.
Dukungan dari IRGC menjadi faktor penting karena lembaga militer elite tersebut memiliki pengaruh besar dalam politik, ekonomi, dan keamanan Iran.
Sosok Misterius di Balik Kekuasaan
Mojtaba Khamenei lahir di Mashhad pada 8 September 1969. Ulama berusia 56 tahun itu dikenal sangat tertutup dan jarang tampil di depan publik maupun media.
Meski tidak pernah memegang jabatan publik, ia disebut telah lama memiliki pengaruh besar di lingkaran kekuasaan Iran. Banyak pengamat menyebut Mojtaba sebagai figur “penjaga gerbang” bagi ayahnya dalam pengambilan keputusan politik penting.
Ia juga dikenal memiliki hubungan dekat dengan IRGC, yang selama bertahun-tahun menjadi pilar utama kekuatan politik dan militer Republik Islam Iran.
Sikap politiknya juga cenderung garis keras, terutama terhadap kelompok reformis yang berupaya memperbaiki hubungan Iran dengan Barat dan membatasi program nuklir negara tersebut.
Trump Bereaksi Keras
Di Washington, Presiden Donald Trump dikabarkan tidak menyembunyikan ketidaksenangannya atas pemilihan Mojtaba Khamenei.
Dalam wawancara dengan pembawa acara Fox News Brian Kilmeade, Trump menyatakan secara singkat, “Saya tidak senang.”
Sebelumnya Trump juga menyatakan bahwa siapa pun yang memimpin Iran seharusnya mendapat persetujuan Amerika Serikat dan menolak kemungkinan Mojtaba memimpin negara itu.
“Mereka membuang waktu. Putra Khamenei tidak berpengaruh. Kami menginginkan seseorang yang membawa harmoni dan perdamaian ke Iran,” kata Trump dalam pernyataan sebelumnya.
Suksesi di Tengah Perang
Penunjukan Mojtaba terjadi di tengah konflik besar di Timur Tengah yang dipicu serangan militer AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, yang menewaskan Ali Khamenei.
Sejak saat itu, kawasan Timur Tengah dilaporkan mengalami eskalasi militer yang melibatkan serangan rudal, drone, serta ketegangan yang memicu lonjakan harga minyak dunia.
Dengan terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi ketiga Iran sejak Revolusi Islam 1979, banyak pengamat menilai negara tersebut akan tetap berada di jalur politik garis keras — sekaligus membuka babak baru konfrontasi dengan Barat. (MU01)









