MonitorUpdate.com – Cahaya lampu bertuliskan “Ramadan Kareem” kini menghiasi jalan-jalan utama Frankfurt. Untuk kedua kalinya dalam dua tahun terakhir, kota metropolitan di jantung Jerman itu merayakan Ramadan secara terbuka—sesuatu yang dulu identik hanya dengan perayaan Natal.
Namun di balik gemerlap simbol pengakuan identitas Islam tersebut, realitas di lapangan belum sepenuhnya ramah. Diskriminasi terhadap Muslim, terutama perempuan berhijab, masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Isu ini mengemuka dalam webinar bertajuk “Islam di Jerman: Menjadi Muslim, Perempuan, dan Minoritas” yang digelar The Lead Institute Universitas Paramadina, Minggu (22/2/2026), sebagai bagian dari rangkaian program Ramadan 2026 bertema “Cahaya Islam Lintas Benua”.
6 Juta Muslim, Agama Terbesar Kedua
Ketua The Lead Institute, Dr. Phil Suratno Muchoeri, memaparkan bahwa Islam kini menjadi agama terbesar kedua di Jerman. Jumlah pemeluknya mencapai sekitar 6 juta jiwa atau 7 persen dari total populasi. Dari angka itu, sekitar 3 juta telah menjadi warga negara Jerman.
“Pertumbuhan ini bukan fenomena instan. Ia berakar dari gelombang guest workers asal Turki pada 1950-an hingga arus pengungsi Timur Tengah pada 2011–2013,” ujar Suratno, alumnus Universitas Goethe Frankfurt.
Komposisi Muslim Jerman saat ini didominasi keturunan Turki (45 persen), disusul Arab (27 persen), serta Afghanistan dan Iran (19 persen). Data ini menunjukkan Islam bukan lagi entitas pinggiran, melainkan bagian integral dari lanskap sosial Jerman modern.
Ramadan Lebih Pendek, Tantangan Lebih Panjang
Dounia Schuler Barkok, seorang guru muslimah yang tinggal di Frankfurt, menggambarkan Ramadan tahun ini terasa lebih ringan karena jatuh di musim dingin, dengan durasi puasa sekitar 11–12 jam. Bandingkan dengan musim panas yang bisa mencapai 18 jam.
Ia aktif beribadah di Maroko Mosque, masjid multikultural yang merujuk pada Mazhab Maliki dalam pelaksanaan Tarawih. Masjid juga rutin menggelar buka puasa bersama, bahkan mengundang tetangga non-Muslim sebagai bentuk diplomasi sosial.
Namun, menurut Dounia, keterbukaan simbolik belum sepenuhnya menghapus diskriminasi struktural.
“Secara hukum, negara menjamin kesetaraan. Tapi di sektor privat, diskriminasi masih nyata,” katanya.
Hijab dan Nama “Islami” Jadi Hambatan Karier
Dounia mengungkap fakta yang cukup mencolok: hanya sekitar 30 persen perempuan Muslim di Jerman yang berani mengenakan hijab di ruang publik atau tempat kerja. Sisanya memilih menyembunyikan identitas demi menghindari penolakan sosial maupun profesional.
Ia mencontohkan keponakannya yang berulang kali ditolak perusahaan meski memiliki kompetensi memadai—hanya karena berhijab.
“Bahkan nama yang terdengar Islami sering menjadi alasan penolakan halus dalam proses rekrutmen,” ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa isu Islamofobia dan sentimen anti-imigran masih menjadi arus bawah politik dan sosial di sebagian wilayah Jerman. Istilah slang politik seperti “Frankfurtistan” yang kerap dipakai kelompok sayap kanan menjadi indikator bahwa resistensi terhadap identitas Islam belum sepenuhnya reda.
Dari Raden Saleh hingga Habibie
Dalam diskusi tersebut, Suratno juga menyinggung jejak historis Indonesia di Jerman melalui sosok Raden Saleh Syarif Bustaman, pelukis abad ke-19 yang pernah bermukim di kawasan Maxen. Rumahnya kini dikenal sebagai “Masjid Biru” (Das Blaue Moschee), simbol pertemuan seni dan spiritualitas.
Kontribusi intelektual Indonesia juga tercatat lewat kiprah B. J. Habibie. Mantan Presiden RI itu dikenal luas dalam industri teknologi Jerman berkat teori konstruksi sayap pesawat dan stabilitas transportasi berkecepatan tinggi yang berpengaruh pada pengembangan teknologi dirgantara.
Jejak historis ini memperlihatkan relasi Indonesia-Jerman bukan sekadar migrasi, tetapi pertukaran gagasan dan peradaban.
Simbol Toleransi yang Substantif
Menutup diskusi, Dounia menekankan bahwa cara paling efektif melawan Islamofobia adalah komunikasi dan aksi nyata.
Setiap Natal, komunitas Muslim di lingkungannya memasak dan membagikan makanan untuk para lansia di panti jompo.
“Kami ingin menunjukkan bahwa toleransi adalah berbuat baik kepada siapa saja, tanpa memandang agama,” katanya.
Gemerlap Ramadan di Frankfurt memang menjadi simbol pengakuan identitas Islam di ruang publik Eropa. Namun pertanyaannya kini: apakah penerimaan simbolik itu akan diikuti oleh kesetaraan substantif di dunia kerja dan kehidupan sosial?
Di tengah dinamika politik identitas dan migrasi di Eropa, masa depan Islam di Jerman tampaknya akan sangat ditentukan oleh dua hal: konsistensi negara menjamin hak minoritas, dan kemampuan komunitas Muslim membangun jembatan sosial yang inklusif.
Ramadan boleh semakin terang di jalanan Frankfurt. Tetapi perjuangan identitas, tampaknya, masih terus menyala. (MU01)










