MonitorUpdate.com – Pasar properti residensial Indonesia mengalami pergeseran signifikan pada Semester II 2025. Di tengah tekanan ekonomi nasional, inventori rumah baru (primer) tercatat turun, sementara pasokan rumah sekunder justru meningkat.
Laporan Indonesia Residential Market Report Semester 2 2025 & Outlook 2026 yang dirilis platform properti Pinhome mencatat rata-rata penambahan inventori rumah primer bulanan turun hingga -14 persen pada Semester II 2025. Kondisi ini mencerminkan stagnasi suplai rumah baru di pasar.
Sebaliknya, inventori rumah sekunder menunjukkan tren berlawanan dengan rata-rata pertumbuhan penambahan mencapai +5 persen per bulan sepanjang periode yang sama. Wilayah penyangga DKI Jakarta seperti Kabupaten Bogor, Kota Depok, dan Kota Tangerang Selatan masing-masing menyumbang sekitar 8 persen dari total penambahan inventori rumah seken.
CEO & Founder Pinhome Dayu Dara Permata mengatakan peningkatan pasokan rumah sekunder dipicu tekanan ekonomi sepanjang 2025.
“Gelombang PHK di berbagai sektor industri serta kenaikan biaya hidup mendorong sebagian pemilik properti melepas aset hunian untuk menjaga likuiditas,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (22/2/2026).
Menurutnya, indikasi tersebut terlihat dari meningkatnya jumlah listing dengan label “Butuh Uang (BU)” dan “Jual Cepat”, termasuk penawaran harga di bawah pasar.
Dari sisi permintaan, terjadi perbedaan tren antara kawasan industri dan kawasan komuter. Wilayah industri seperti Cikarang mencatat pertumbuhan permintaan hingga 16 persen pada Semester II 2025 dibanding semester sebelumnya.
Sebaliknya, kawasan residensial komuter di Bekasi mengalami koreksi permintaan. Tambun tercatat turun 22 persen, sementara Cibitung terkoreksi 9 persen dibanding Semester I 2025.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai, meskipun sektor real estat dan konstruksi melambat sepanjang 2025, kebutuhan hunian tetap ada.
“Ke depan, pemulihan akan sangat ditentukan oleh keterjangkauan, kepastian kebijakan, serta kemampuan pembiayaan menjangkau segmen masyarakat yang paling membutuhkan,” ujarnya.
Dari sisi pembiayaan, minat terhadap KPR rumah sekunder kini melampaui rumah primer. Skema take over dan top up mendominasi hingga 74 persen dari total transaksi, disertai kecenderungan memilih tenor kredit lebih panjang dan plafon lebih rendah guna menjaga arus kas rumah tangga.
Memasuki awal 2026, pasar properti masih dibayangi dinamika global, termasuk konflik geopolitik dan volatilitas pasar keuangan domestik. Namun, sejumlah wilayah menunjukkan sinyal pemulihan.
Di Sumatera, indeks permintaan rumah di Kota Palembang naik 24 persen, sementara Kota Pekanbaru meningkat 23 persen pada Desember 2025 dibanding bulan sebelumnya.
Sementara itu, operasional Kereta Cepat Whoosh turut mendorong minat hunian di Bandung Timur. Pencarian rumah di Cileunyi naik 18 persen dan Rancaekek melonjak 31 persen pada Semester II 2025 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Pinhome menilai, peluang pemulihan sektor properti pada 2026 tetap terbuka, dengan catatan perbaikan daya beli dan stabilisasi ekonomi dapat terjaga. (MU01)










