MonitorUpdate.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang Selatan menggelar halalbihalal yang dipadukan dengan pengajian kitab kuning, Sabtu (5/4/2026), di kawasan Pamulang. Kegiatan ini menjadi penanda kembalinya rutinitas pengajian bulanan yang belakangan kian diminati masyarakat.
Acara berlangsung di kediaman tokoh masyarakat setempat, H. Adi Sunaryo, dan dihadiri Ketua Umum MUI Tangsel KH Muhammad Saidih, Sekretaris Umum MUI Tangsel Abdul Rojak, serta ratusan ulama dan jemaah dari berbagai wilayah.
Sekretaris Umum MUI Tangsel Abdul Rojak mengatakan, konsep halalbihalal yang langsung diisi pengajian merupakan upaya menghidupkan tradisi keilmuan Islam di tengah masyarakat urban.
“Mungkin ini terkesan unik, halalbihalal tapi langsung ngaji. Namun justru ini yang ingin kita dorong, agar silaturahmi tidak lepas dari nilai keilmuan,” ujar Rojak.
Ia menjelaskan, pengajian kitab kuning yang digagas MUI Tangsel kini menunjukkan tren peningkatan signifikan. Jika awalnya hanya diikuti belasan peserta, kini jumlahnya mencapai ratusan jemaah setiap pertemuan.
Pengajian tersebut rutin digelar di Islamic Centre Tangsel setiap Rabu pagi pada pekan kedua tiap bulan, dengan menghadirkan sejumlah narasumber tetap dari kalangan ulama dan akademisi, di antaranya KH M Sobron Zayyan, KH Bahrudin, KH Almahdi Akbar, dan KH Sirojudin.
Menurut Rojak, meningkatnya animo masyarakat tidak lepas dari pendekatan yang lebih komunikatif dan inklusif, termasuk peran aktif pengurus dalam mengajak masyarakat terlibat.
“Ini bagian dari ikhtiar kami agar kajian kitab kuning tidak lagi dianggap eksklusif, tapi bisa diakses luas oleh masyarakat,” katanya.
Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Sejumlah pejabat daerah turut hadir, di antaranya perwakilan wali kota, Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan, hingga unsur Forkopimcam dan tokoh lintas organisasi keagamaan.
Di tengah suasana pengajian, panitia juga menyisipkan kuis interaktif untuk menguji pemahaman jemaah. Hadiah diserahkan langsung oleh Wakil Wali Kota sebagai bentuk apresiasi sekaligus penyemangat.
“Ini sekadar hiburan, tapi juga untuk mengukur sejauh mana materi bisa diserap jemaah,” kata Rojak.
Meski demikian, penguatan tradisi pengajian kitab kuning di wilayah perkotaan seperti Tangsel dinilai masih menghadapi tantangan, terutama dalam menjaga konsistensi partisipasi jemaah di tengah gaya hidup masyarakat urban yang dinamis.
Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin KH Ahmad Ghazali, dilanjutkan dengan ramah tamah antarjemaah—menegaskan bahwa silaturahmi dan penguatan tradisi keilmuan dapat berjalan beriringan.(MU01)










