Scan Sekali, Saldo Menguap: Jebakan Psikologis di Balik Maraknya Pembayaran Digital

Ilustrasi: Seseorang memindai kode QRIS menggunakan ponsel untuk pembayaran nontunai di sebuah kafe. (Freepik)
Ilustrasi: Seseorang memindai kode QRIS menggunakan ponsel untuk pembayaran nontunai di sebuah kafe. (Freepik)

MonitorUpdate.com — Pernah merasa heran ketika mengecek mutasi rekening di akhir bulan, saldo tabungan tiba-tiba menipis padahal tak pernah merasa berbelanja besar? Deretan transaksi kecil—kopi susu, jajanan minimarket, hingga parkir—yang dibayar cukup dengan satu kali scan QRIS kerap menjadi biang keladinya.

Fenomena ini bukan semata soal kurang disiplin atau lemah berhitung. Dalam kajian ekonomi perilaku, perilaku tersebut berkaitan dengan pain of paying, yakni rasa tidak nyaman saat seseorang mengeluarkan uang. Konsep ini pertama kali diperkenalkan Ofer Zellermayer pada 1996 dan kemudian dipopulerkan oleh pakar perilaku ekonomi, Dan Ariely.

Secara sederhana, otak manusia merespons lebih kuat ketika melihat uang fisik berpindah tangan. Ada sensasi kehilangan nyata saat lembaran uang keluar dari dompet. Sebaliknya, pada pembayaran nontunai—seperti QRIS, kartu debit, atau dompet digital—rasa “sakit” itu berkurang drastis karena uang hanya tampil sebagai angka di layar.

Baca Juga :

Dampak psikologis ini telah dibuktikan secara ilmiah. Penelitian klasik yang dilakukan Drazen Prelec dan Duncan Simester dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menunjukkan, partisipan yang membayar dengan metode nontunai bersedia menawar harga hingga dua kali lipat lebih tinggi untuk tiket pertandingan basket dibandingkan mereka yang membayar secara tunai.

Temuan tersebut menegaskan bahwa pembayaran digital secara tidak sadar memutus hubungan emosional seseorang dengan nilai uang. Akibatnya, pertimbangan rasional terhadap harga menjadi lebih lemah, sementara dorongan konsumtif lebih mudah muncul.

Di Indonesia, fenomena ini semakin relevan seiring pesatnya adopsi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Data Bank Indonesia mencatat volume transaksi QRIS terus tumbuh signifikan dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya kenyamanan masyarakat terhadap pembayaran nontunai yang cepat dan praktis.

Namun, kemudahan itulah yang dinilai menyimpan jebakan. Proses transaksi yang berlangsung hanya dalam hitungan detik membuat otak tidak memiliki cukup waktu untuk mengevaluasi apakah suatu pengeluaran benar-benar dibutuhkan atau sekadar impuls sesaat.

Kondisi ini kerap disebut sebagai sindrom uang monopoli, ketika uang digital terasa tidak nyata karena hanya berupa angka di layar—mirip uang mainan dalam permainan Monopoli. Hilangnya friksi psikologis membuat pengeluaran kecil yang sebelumnya dipikirkan dua kali saat membayar tunai kini lolos begitu saja lewat pemindai wajah atau sidik jari.

Dalam jangka panjang, akumulasi pengeluaran kecil tersebut berpotensi menggerus kontrol keuangan pribadi. Kenyamanan transaksi sesaat pun ditukar dengan risiko rapuhnya kesehatan finansial.

Sejumlah pakar menyarankan langkah sederhana untuk meredam efek psikologis ini, salah satunya dengan kembali menggunakan uang tunai untuk pengeluaran harian yang bersifat konsumtif, seperti jajan kopi atau makan siang. Dengan melihat langsung uang berkurang di dompet, mekanisme pain of paying dapat kembali berfungsi sebagai rem alami.

Teknologi pembayaran digital, termasuk QRIS, sejatinya diciptakan untuk memudahkan hidup. Namun, kendali atas dompet seharusnya tetap berada di tangan kesadaran dan logika pengguna, bukan sepenuhnya diserahkan pada kecepatan dan kenyamanan algoritma. (MU01)

Share this article