Tak Rayakan Tahun Baru, Pilihan Sunyi yang Kian Masuk Akal di Tengah Duka Nasional

Ilustrasi: The silhouette of reporter photograph the fantastic festive new years colorful fireworks (Freepik)
Ilustrasi: The silhouette of reporter photograph the fantastic festive new years colorful fireworks (Freepik)

MonitorUpdate.com – Belum reda hiruk pikuk perayaan Natal, ruang publik kembali dipenuhi pertanyaan klasik menjelang 31 Desember: “Tahun baruan ke mana?”. Namun di penghujung 2025 ini, memilih tidak ikut euforia malam tahun baru justru menjadi keputusan yang semakin relevan, rasional, dan bermakna di tengah duka nasional akibat bencana alam.

Fenomena kecemasan sosial menjelang malam pergantian tahun atau New Year’s Eve Anxiety kembali mencuat. Tekanan sosial yang menuntut perayaan meriah, pesta kembang api, hingga makan malam mewah kerap membuat sebagian masyarakat merasa “tertinggal” bila tak memiliki agenda khusus pada 31 Desember.

B

Namun konteks akhir tahun 2025 menghadirkan realitas berbeda. Bangsa Indonesia tengah berduka menyusul bencana alam besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera. Banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.000 orang, menjadikannya salah satu tragedi kemanusiaan terberat di penghujung tahun ini.

Situasi tersebut mendorong sejumlah pemerintah daerah mengambil langkah penyesuaian. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, misalnya, secara resmi meniadakan pesta kembang api malam Tahun Baru 2026. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memutuskan kebijakan tersebut sebagai bentuk empati dan solidaritas kepada para korban bencana di Sumatera.

Sebagai pengganti, Pemprov DKI Jakarta akan menggelar malam doa bersama di sejumlah titik serta memfokuskan agenda akhir tahun pada penggalangan donasi kemanusiaan. Kebijakan serupa juga diambil beberapa daerah lain, termasuk di Jawa Timur dan Aceh, yang memilih zikir dan doa bersama ketimbang pesta pora.

Langkah ini menandai pergeseran makna perayaan tahun baru, dari euforia konsumtif menuju refleksi dan solidaritas sosial. Pilihan untuk tidak merayakan malam pergantian tahun secara meriah pun tidak lagi bisa dipandang sebagai sikap antisosial, melainkan bagian dari empati kolektif.

Di sisi lain, faktor ekonomi turut menjadi pertimbangan rasional. Setiap akhir tahun, lonjakan harga menjadi fenomena berulang. Tarif hotel di kota-kota besar tercatat melonjak hingga 200–300 persen, sementara biaya transportasi daring dan tiket wisata meroket akibat tingginya permintaan.

Ironisnya, lonjakan biaya tersebut sering kali tidak sebanding dengan kualitas layanan yang diterima, mengingat kepadatan pengunjung dan keterbatasan fasilitas. Dalam konteks ini, keputusan untuk tetap berada di rumah atau mengikuti kegiatan doa bersama menjadi pilihan yang lebih logis secara ekonomi.

Psikolog menyebut kondisi emosional jelang pergantian tahun sebagai New Year’s Blues, yang dipicu ekspektasi berlebihan terhadap satu malam yang dianggap harus sempurna. Sebaliknya, tren Joy of Missing Out (JOMO) mulai mendapat tempat, yakni perasaan tenang dan puas karena memilih tidak terlibat dalam keramaian yang tidak esensial.

Dengan demikian, menutup tahun 2025 dengan ketenangan, doa, dan solidaritas bukanlah simbol kekalahan sosial, melainkan cerminan kedewasaan kolektif. Di tengah duka nasional, keputusan untuk tidak berpesta justru menjadi pernyataan empati paling sederhana, namun bermakna. (MU01)

Share this article