MonitorUpdate.com — Di tengah banjir narasi motivasi tentang keharusan menjadi luar biasa, produktif, dan berdampak besar sejak usia muda, sebagian anak muda justru menghadapi kecemasan baru: takut menjalani hidup yang biasa-biasa saja.
Fenomena ini kian menguat di kalangan Generasi Z, generasi yang tumbuh bersama media sosial dan paparan standar kesuksesan yang terus dipamerkan setiap hari. Alih-alih memacu semangat, narasi “harus cepat sukses” justru memicu tekanan psikologis yang tidak ringan.
Psikolog sosial dari Universitas Indonesia dalam sejumlah kajian kesehatan mental anak muda menilai, Gen Z hidup dalam ruang perbandingan sosial yang nyaris tanpa jeda. Media sosial tidak lagi sekadar ruang berbagi, melainkan etalase pencapaian—mulai dari karier mapan di usia 20-an, bisnis rintisan, hingga gaya hidup yang tampak stabil sebelum usia 30 tahun.
Baca Juga : Hidup Nyaris Tak Pernah Offline, Gen Z Habiskan hingga 7 Jam Sehari di Smartphone
“Kondisi ini membuat hidup yang stabil dan rutin kerap dipersepsikan sebagai kegagalan, bukan sebagai pilihan sadar,” tulis salah satu kajian UI tentang dinamika kesehatan mental generasi muda.
Data global memperkuat gambaran tersebut. Laporan Pew Research Center mencatat, Gen Z merupakan generasi dengan tingkat paparan media sosial tertinggi sekaligus generasi yang paling sering melaporkan kecemasan terkait pencapaian hidup dan masa depan.
Paparan berulang terhadap konten pencapaian ekstrem menciptakan ilusi bahwa hidup normal adalah sesuatu yang tertinggal. Padahal, riset yang sama menegaskan bahwa mayoritas konten viral tidak merepresentasikan kondisi nyata sebagian besar anak muda.
Fenomena ini dikenal sebagai achievement distortion, yakni ketika persepsi tentang kesuksesan dibentuk oleh minoritas yang paling terlihat, bukan oleh realitas mayoritas.
Survei bersama WHO dan UNICEF terkait kesehatan mental remaja dan dewasa muda menunjukkan bahwa salah satu sumber stres dominan Gen Z bukan semata persoalan ekonomi, melainkan ketakutan akan masa depan yang dianggap “tidak sesuai ekspektasi sosial”.
Banyak anak muda merasa tertekan memilih pekerjaan yang dinilai “kurang keren”, hidup tanpa pencapaian besar, atau tidak memiliki cerita yang layak dipamerkan di ruang digital. Tekanan tersebut mendorong sebagian Gen Z untuk terus terlihat berkembang, meski secara mental belum siap.
Sejumlah sosiolog muda dari berbagai kampus di Indonesia menilai, Gen Z saat ini berada di persimpangan nilai. Di satu sisi, mereka mewarisi narasi sukses cepat dan pencapaian instan. Di sisi lain, realitas ekonomi, krisis iklim, serta ketidakpastian global membuat hidup stabil justru menjadi capaian tersendiri.
Dalam beberapa tahun terakhir, mulai muncul kontra-narasi di kalangan Gen Z tentang hidup yang tenang, cukup, dan berkelanjutan. Namun, narasi ini masih kalah bising dibanding konten yang menonjolkan kecepatan dan kehebatan.
Tekanan untuk tidak menjadi “biasa” berdampak langsung pada kesehatan mental. Data American Psychological Association (APA) menunjukkan peningkatan signifikan kecemasan berbasis perbandingan sosial di kalangan generasi muda.
Gejalanya beragam, mulai dari overthinking berlebihan, perasaan tertinggal meski sudah bekerja, sulit merasa puas, hingga kelelahan emosional tanpa pemicu yang jelas. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memicu burnout dini dan krisis identitas.
Para ahli menekankan pentingnya redefinisi kesuksesan yang lebih personal dan realistis. Hidup stabil, relasi sosial yang sehat, serta kesehatan mental yang terjaga dinilai tidak kalah bernilai dibanding pencapaian yang tampak spektakuler.
Bagi Gen Z, tantangannya bukan hanya menghadapi dunia yang semakin kompetitif, tetapi juga berani menjalani hidup tanpa harus selalu terlihat luar biasa.
Di tengah dunia yang gemar memamerkan puncak pencapaian, menerima bahwa hidup yang cukup juga layak dirayakan bisa menjadi bentuk keberanian tersendiri. (MU01)










