Tren Work From Café Makin Menguat, Analis Peringatkan Gen Z Terjebak ‘Produktivitas Semu’ dan Pengeluaran Membengkak

Illustrasi: Asian woman working in a cafe (Sumber: Freepik)
Illustrasi: Asian woman working in a cafe (Sumber: Freepik)

MonitorUpdate.com – Fenomena bekerja dari kafe atau Work From Café (WFC) semakin marak di berbagai kota. Namun pengamat gaya hidup dan keuangan, Mohammad Ramli, menilai tren ini berpotensi menimbulkan pemborosan serta menurunkan kualitas kerja jika tidak dikelola dengan bijak.

Work From Café (WFC) kini telah menjadi fenomena baru di kota-kota besar hingga daerah, dari Jakarta sampai Blitar. Aktivitas bekerja di kafe yang didominasi Generasi Z tersebut dianggap menawarkan suasana baru yang lebih santai dibanding bekerja dari rumah atau kantor.

Baca Juga: Sutera Nexen, Hunian Smart-Living Ideal untuk Gen Z dan Millenial dari Alam Sutera

Namun di balik tren yang kian menguat itu, analis gaya hidup, Mohammad Ramli, mengingatkan adanya risiko finansial dan produktivitas yang sering diabaikan. Menurutnya, WFC tidak selalu memberi hasil kerja optimal seperti yang sering digambarkan di media sosial.

“Secara konsep, WFC lahir dari kebutuhan Gen Z terhadap ruang ketiga, tempat selain rumah dan kantor yang memberi suasana segar. Tapi kalau biaya nongkrong tidak sebanding dengan nilai produktivitas yang dihasilkan, ini jadi jebakan produktivitas semu,” ujar Ramli, Minggu (hari ini).

Ramli menilai suasana kafe memang bisa membantu mengurangi kejenuhan, tetapi tidak sedikit pula yang justru terbawa distraksi. Musik, keramaian, hingga godaan media sosial menjadi faktor yang kerap membuat konsentrasi pecah.

“Batas antara produktif dan sekadar pindah tempat rebahan itu sangat tipis. Banyak yang merasa bekerja lebih fokus di kafe, tapi output-nya tidak meningkat signifikan,” kata Ramli.

Selain isu produktivitas, Ramli menyoroti ancaman finansial yang membayangi pelaku WFC. Ia merujuk pada survei terbaru yang dilakukan terhadap mahasiswa di Yogyakarta, yang mencatat pengeluaran rata-rata Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan untuk kebutuhan nongkrong di kafe dan pengeluaran non-esensial lainnya.

“Pengeluaran itu umumnya berasal dari pembelian kopi, camilan, dan biaya lain yang akumulatif. Kalau dibandingkan dengan biaya bekerja di rumah, selisihnya jauh. Ini yang membuat banyak Gen Z tidak sadar sudah boncos,” ungkap Ramli.

Ia juga mencontohkan kasus di Korea Selatan, di mana sejumlah kedai kopi terpaksa membatasi durasi pelanggan bekerja karena dinilai mengganggu perputaran pengunjung. Menurutnya, fenomena tersebut menegaskan bahwa WFC tidak selalu cocok untuk deep work.

“Kalau kafe sampai bikin aturan khusus untuk membatasi orang ‘nugas’, itu menunjukkan WFC bisa memicu masalah baru—baik bagi bisnis maupun bagi para pelakunya,” ujarnya.

Ramli menyimpulkan bahwa WFC sah-sah saja dilakukan, tetapi harus dihitung secara rasional. Ia menekankan agar Gen Z tidak menjadikan WFC sebagai ajang mempertahankan aesthetic atau pembentukan citra produktif di media sosial.

“WFC itu strategi kerja fleksibel, tapi harus efisien. Jangan sampai biaya nongkrong lebih besar daripada cuan yang dihasilkan. Tujuan akhirnya tetap produktivitas, bukan konten,” tutur Ramli. (MU01)

Share this article