100 Hari Trump: Dampak Geopolitik dan Ekonomi Global yang Mengguncang Indonesia

 

MonitorUpdate.com – Dinamika politik dan ekonomi dunia terus bergulir cepat, terutama di bawah kebijakan Presiden AS Donald Trump yang kini menjalani masa jabatan kedua.

Dalam rangka merespons perkembangan ini, Universitas Paramadina menggelar diskusi publik bertajuk “100 Hari Trump: Tsunami Geopolitik dan Ekonomi Bagi Indonesia?” yang diadakan secara daring melalui Zoom pada Jumat (2/5/2025).

Diskusi ini membahas dampak kebijakan Trump pada kondisi global dan Indonesia, dengan fokus pada aspek ekonomi dan geopolitik.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, dalam pemaparannya mengungkapkan bahwa globalisasi kini berada dalam masa yang penuh ketidakpastian, terlebih setelah bergulirnya kebijakan Trump.

Menyoroti sampul terbaru The Economist yang menggambarkan elang Amerika Serikat dalam kondisi “babak belur” dengan pesan “masih 1.361 hari lagi”, Wijayanto menilai hal tersebut sebagai simbol pesimisme global terhadap kebijakan yang dipimpin Trump.

Resesi Global dan Penurunan Kepercayaan AS

Ekonomi AS, ujar Wijayanto, sedang mengalami stagnasi dengan pertumbuhan yang terkontraksi -0,3% pada kuartal pertama 2025. Bahkan, JPMorgan memperkirakan kemungkinan resesi mencapai 40%. Penurunan besar dalam perdagangan AS, terutama impor dari Tiongkok yang anjlok hingga 70-80%, menunjukkan dampak kebijakan proteksionisme Trump.

Selain itu, indeks kepercayaan konsumen AS juga mengalami penurunan signifikan, jatuh ke angka 86, di bawah batas normal 100. Kendati demikian, Trump tetap berada dalam penyangkalan terhadap krisis ekonomi ini, dan malah menyalahkan pemerintahan Joe Biden atas keadaan tersebut.

Menurut Wijayanto, ada dua karakteristik dominan dalam kepemimpinan Trump. Pertama, ia memandang dunia sebagai panggung reality show, yang memanfaatkan kontroversi sebagai daya tarik politik. Kedua, kebijakan ekonomi Trump, yang melibatkan tokoh-tokoh besar seperti Elon Musk, terlihat dilandasi kekhawatiran terhadap kebangkrutan fiskal AS yang justru memperburuk keadaan ekonomi.

Dampak Bagi Indonesia

Bagi Indonesia, yang hampir setengah dari surplus ekspornya berasal dari AS, kebijakan ekonomi Trump membawa dampak langsung. Wijayanto mengingatkan bahwa Indonesia sangat rentan terhadap gejolak ekonomi global, termasuk kebijakan perdagangan AS.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya respons nasional yang lebih terstruktur melalui pembentukan beberapa satuan tugas seperti satgas perundingan dagang dan satgas perluasan kesempatan kerja.

“Kita perlu deregulasi total. Indonesia harus bersaing langsung dengan negara seperti Vietnam yang kini menjadi magnet investasi global,” tambah Wijayanto.

Dia juga mengkritik rendahnya kecanggihan produk ekspor Indonesia, yang sebagian besar masih bergantung pada komoditas primer seperti batu bara, CPO, tembaga, dan minyak. Untuk itu, Indonesia harus segera melakukan reformasi struktural yang mendalam di berbagai sektor ekonomi.

Ketegangan Geopolitik Global

Dalam diskusi tersebut, Dinna Prapto Raharja, pakar hubungan internasional, juga menyoroti dampak kebijakan unilateral Trump terhadap tatanan hubungan internasional.

Keputusan Trump menarik AS dari WHO dan Paris Agreement, serta pemangkasan anggaran bantuan luar negeri, menjadi tanda kembalinya proteksionisme dan berakhirnya era kerja sama multilateral.

“Ketergantungan global yang telah dibangun sejak Perang Dunia II kini mulai dirombak oleh AS, menciptakan ketidakpastian dalam sistem internasional,” ujar Dinna.

Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia, sebagai negara dengan kebijakan luar negeri yang bebas dan aktif, kini harus menghadapi tantangan besar akibat hilangnya prinsip win-win dalam hubungan antarnegara.

Perekonomian AS Terguncang

Di sisi lain, Andi Mallarangeng, Ph.D, pengamat politik AS, menambahkan bahwa kebijakan Trump tidak hanya menciptakan ketidakstabilan global, tetapi juga mempengaruhi kondisi politik domestik AS. Rating persetujuan terhadap Trump anjlok dalam 100 hari pertama pemerintahannya, mencatatkan rekor terburuk dalam 70 tahun terakhir.

“Trade war yang digagas Trump justru memberikan beban berat bagi perusahaan dan konsumen AS. Harga barang impor meningkat, dan daya beli masyarakat menurun,” ujar Andi, mengkritisi ketidaksesuaian kebijakan Trump dengan realitas ekonomi yang ada.

Tantangan Global yang Harus Dihadapi Indonesia

Diskusi ini menegaskan pentingnya bagi Indonesia untuk merespons tantangan global dengan strategi yang matang. Dinna mengingatkan bahwa bahkan isu-isu strategis seperti pertahanan dan keamanan kini menjadi ajang perlombaan baru, dengan penguasaan teknologi seperti drone dan big data yang semakin terbatas. Indonesia harus bersiap menghadapi potensi eskalasi ketegangan dan senjata yang tidak terduga.

Kondisi ini menjadi pengingat bahwa Indonesia tidak bisa hanya bereaksi terhadap perubahan yang terjadi, tetapi harus proaktif membentuk kebijakan yang relevan dan kompetitif di tengah ketidakpastian dunia.

(mu01)

Share this article