MonitorUpdate.com — Di tengah menguatnya kritik publik terhadap elite politik, komika Pandji Pragiwaksono kembali menjadi sorotan. Lewat humor politiknya, Pandji dinilai memainkan peran “punakawan” modern—figur yang muncul saat situasi sosial-politik memasuki fase goro-goro: kacau, penuh kontradiksi, dan sarat kekecewaan publik.
Dalam tradisi pewayangan Jawa, goro-goro adalah penanda menjelang konflik besar. Pada fase inilah tokoh punakawan—Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong—hadir ke panggung. Mereka bukan sekadar pelawak, melainkan suara rakyat jelata yang bebas menertawakan kekuasaan, menyampaikan kritik tanpa basa-basi, dan membuka ruang kejujuran di tengah situasi yang tak menentu.
Fenomena serupa dinilai terjadi hari ini. Pandji, melalui panggung komedi dan kanal digitalnya, dianggap mengartikulasikan kegelisahan yang selama ini terpendam di benak masyarakat. Ia menyuarakan kejengahan publik terhadap perilaku elite, terutama mereka yang memiliki jabatan politik namun dinilai abai terhadap kritik.
Baca Juga: Materi “Mens Rea” Disoal, Pandji Pragiwaksono Dilaporkan ke Polda Metro Jaya
“Komedi Pandji bukan berdiri di ruang kosong. Ia hanya mengucapkan apa yang sudah lama dipikirkan banyak orang,” demikian salah satu pandangan yang berkembang di media sosial dan diskursus publik.
Kondisi ini muncul di tengah ironi kebebasan berpendapat. Secara formal, ruang bicara tidak sepenuhnya dibatasi. Namun, kemauan elite untuk mendengar kritik dinilai semakin menipis. Jabatan dan kekuasaan kerap dianggap sebagai tameng, bahkan dari ejekan dan satire.
Padahal, dalam sejarah peradaban, humor politik justru menjadi sinyal penting. Di Yunani Kuno, Socrates dikenal menertawakan kekuasaan dan para filsuf mapan bersama anak-anak muda Athena. Pada abad ke-20, Charlie Chaplin menggunakan film The Great Dictator untuk mengejek Adolf Hitler dan membuka mata dunia terhadap bahaya totalitarianisme.
“Hampir selalu, ketika penguasa mulai alergi ditertawakan, itu pertanda krisis legitimasi,” ujar pengamat budaya yang kerap membahas relasi seni dan politik.
Belakangan, reaksi keras sebagian pejabat terhadap satire dan lelucon politik menuai kritik. Di saat yang sama, publik menilai elite justru kerap kehilangan rasa malu, dengan manuver kekuasaan yang vulgar, saling menjilat demi kepentingan politik, bahkan dianggap memainkan konstitusi untuk melanggengkan kuasa.
Dalam konteks ini, figur punakawan kembali relevan. Dalam kisah wayang, Semar bukan sekadar rakyat biasa. Ia adalah Hyang Ismaya, kakak Batara Guru, yang turun ke bumi dalam rupa sederhana. Ia melambangkan prinsip vox populi vox dei—suara rakyat adalah suara kebenaran.
Tak heran jika Pandji kerap menyebut penontonnya bukan sekadar audiens, melainkan “atasan Presiden Republik Indonesia.” Sebuah sindiran bahwa dalam sistem demokrasi, rakyat adalah pemilik kedaulatan tertinggi. Ketika para “bawahan” menyimpang, kritik bahkan hardikan menjadi hak publik.
Di titik inilah komedi berubah menjadi sesuatu yang dianggap berbahaya oleh kekuasaan yang lupa diri. Bukan karena lucunya, melainkan karena kejujurannya.
Video pernyataan dan materi komedi Pandji yang memantik diskusi luas itu kini beredar dan ramai dibicarakan di berbagai platform digital. (MU01)










