MonitorUpdate.com – Di tengah maraknya kasus korupsi yang menyeret nama pejabat tinggi negara, kisah hidup Kasman Singodimedjo terasa seperti tamparan sunyi bagi republik.
Tak banyak yang tahu, mantan Jaksa Agung Republik Indonesia ini pernah berkeliling kampung menjajakan es lilin demi menghidupi keluarganya. Ia juga pernah menjadi kuli bangunan hingga penjaga malam, jauh setelah tak lagi memegang jabatan strategis negara.
Padahal, namanya tercatat dalam sejarah awal Indonesia. Kasman merupakan anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), forum penting yang mengesahkan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara. Ia juga dikenal sebagai tokoh Masyumi yang berpengaruh pada masa awal kemerdekaan.
Dari Kursi Kekuasaan ke Pasar Tradisional
Pada periode awal Republik, Kasman dipercaya menduduki kursi Jaksa Agung—jabatan dengan otoritas hukum tertinggi saat itu. Dalam lanskap politik yang belum stabil pasca-Proklamasi 1945, posisi tersebut bukan hanya bergengsi, tetapi juga strategis dalam membangun fondasi penegakan hukum nasional.
Namun selepas tak lagi menjabat, hidupnya berbalik drastis. Tak ada rumah besar, tak ada kendaraan mewah, tak pula simpanan kekayaan.
Untuk menyambung hidup, Kasman memilih jalan sunyi: bekerja apa saja yang halal. Ia menjajakan es lilin di bawah terik matahari. Di lain waktu, ia memanggul semen sebagai kuli bangunan. Malam hari, ia berjaga sebagai penjaga keamanan.
Kontras itu sulit dibayangkan: tangan yang dahulu menandatangani dokumen penting negara, kini menggenggam pikulan di pasar.
“Lebih Baik Miskin daripada Ambil Hak Rakyat”
Sebuah kisah yang sering dikenang adalah ketika seorang sahabat seperjuangannya tak kuasa menahan air mata melihat Kasman memanggul beban berat. Sahabat itu menyayangkan nasib mantan pejabat tinggi negara yang hidup dalam kekurangan.
Kasman menjawab dengan tenang: ia lebih bahagia hidup miskin daripada harus makan dari hasil mengambil hak rakyat.
Pernyataan itu bukan retorika politik. Ia menjalaninya sampai akhir hayat. Kasman wafat tanpa warisan harta melimpah. Yang ia tinggalkan adalah reputasi bersih dan teladan integritas.
Relevansi di Tengah Krisis Integritas
Di tengah sorotan publik terhadap berbagai kasus korupsi pejabat, kisah Kasman kembali diperbincangkan. Bukan sekadar nostalgia sejarah, tetapi sebagai refleksi tentang standar moral pemimpin.
Indonesia hari ini menghadapi tantangan serius dalam pemberantasan korupsi dan penguatan etika jabatan publik. Dalam konteks itu, figur seperti Kasman menjadi pengingat bahwa republik ini dibangun oleh orang-orang yang rela kehilangan kenyamanan pribadi demi menjaga kehormatan.
Integritas bukan jargon kampanye. Ia adalah pilihan hidup—bahkan ketika pilihan itu berarti kesederhanaan.
Dan mungkin, justru dalam kesederhanaan itulah, kemuliaan seorang negarawan diuji. (MU01/Ratman)








