MonitorUpdate.com – Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyinggung situasi geopolitik Timur Tengah yang masih rapuh di tengah gencatan senjata, saat berbicara dalam forum akademik di Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) Jakarta. Ia menekankan pentingnya menahan eskalasi konflik sekaligus memperkuat kerja sama internasional berbasis saling menghormati.
Dalam paparannya pada kuliah umum internasional yang digelar Lembaga Kajian Islam dan Timur Tengah (LEMKITT) UIA yang mengangkat tema “Dinamika Kontemporer Iran: Mendorong Dialog, Kerja Sama, dan Masa Depan Bersama.” Boroujerdi menggambarkan kondisi Timur Tengah saat ini belum sepenuhnya stabil meski gencatan senjata masih berlangsung di sejumlah titik konflik.
Ia mengingatkan bahwa perdamaian tidak cukup hanya dengan penghentian senjata, tetapi membutuhkan komitmen kolektif, kontrol eskalasi, serta peran aktif komunitas internasional.
Baca Juga : Gunakan Pasal 51 Piagam PBB untuk Legitimasi Serangan Balasan, Iran Tuduh AS–Israel Agresor
“Stabilitas kawasan hanya bisa dicapai jika semua pihak menahan diri dan mengedepankan dialog,” ujarnya dalam forum tersebut.
Pernyataan ini muncul di tengah sorotan global terhadap konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang hingga kini masih menyisakan ketidakpastian, baik secara politik maupun keamanan. Sejumlah analis menilai, narasi “dialog dan kerja sama” yang didorong Iran juga menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi diplomatiknya di kawasan dan dunia internasional.
Selain isu geopolitik, forum ini juga menyoroti pentingnya persatuan umat Islam. Perbedaan mazhab, kepentingan politik, hingga relasi antarnegara dinilai tidak boleh menjadi sumber perpecahan yang melemahkan solidaritas global umat.
Di sisi lain, Indonesia disebut memiliki peran strategis sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Pengalaman Iran dalam membangun ketahanan dan kemandirian di tengah tekanan global disebut dapat menjadi bahan refleksi, meski tetap perlu dilihat secara kritis dalam konteks sistem politik dan ekonomi yang berbeda.
Dalam konteks bilateral, kerja sama pendidikan menjadi salah satu fokus utama. UIA mendorong penguatan kolaborasi melalui pertukaran mahasiswa dan dosen, riset bersama, hingga publikasi ilmiah lintas negara. Platform digital juga disebut sebagai instrumen baru untuk mempercepat konektivitas akademik.
Namun demikian, penguatan hubungan Indonesia–Iran tidak lepas dari tantangan. Selain perbedaan kepentingan geopolitik, kerja sama juga perlu mempertimbangkan posisi Indonesia dalam peta diplomasi global yang cenderung menjaga keseimbangan dengan berbagai pihak.
UIA Jakarta menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang dialog yang inklusif dan konstruktif. Kampus ini menilai, jalur akademik dapat menjadi medium efektif untuk memperkuat hubungan antarbangsa tanpa terjebak dalam ketegangan politik praktis.
Forum ini diharapkan tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi mampu mendorong kerja sama konkret yang berdampak langsung, sekaligus menjadi ajang diplomasi lunak (soft diplomacy) Iran melalui jalur akademik, di tengah dinamika global yang masih diwarnai ketegangan kawasan.
Forum akademik tersebut diharapkan juga dapat memperkuat hubungan antar masyarakat (people-to-people contact) antara Indonesia dan Iran di tengah lanskap global yang terus berubah. (MU01)









