MonitorUpdate.com – Kinerja sektor ritel kembali menunjukkan sinyal positif. Penjualan eceran pada November 2025 diperkirakan melonjak seiring meningkatnya belanja masyarakat menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), sekaligus memberi sinyal penguatan daya beli di akhir tahun.
Kinerja penjualan eceran nasional diproyeksikan menguat pada November 2025. Indeks Penjualan Riil (IPR) diprakirakan tumbuh 5,9 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat signifikan dibandingkan Oktober 2025 yang tercatat tumbuh 4,3 persen yoy.
Baca Juga : Tak Banyak yang Tahu, Pemerintah Beri Diskon Tarif Tol hingga 20% Jelang Nataru
Lonjakan penjualan terutama ditopang oleh kenaikan permintaan pada sejumlah kelompok barang. Kelompok perlengkapan rumah tangga, barang budaya dan rekreasi, suku cadang dan aksesori kendaraan, serta makanan, minuman, dan tembakau tercatat menjadi motor pertumbuhan utama.
Secara bulanan, penjualan eceran juga diperkirakan tumbuh 1,1 persen (month to month/mtm). Penguatan ini sejalan dengan tradisi kenaikan konsumsi masyarakat menjelang periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.
Sementara itu, data aktual Oktober 2025 menunjukkan tren yang relatif konsisten. Pada periode tersebut, IPR tercatat tumbuh 4,3 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan September 2025 yang tumbuh 3,7 persen yoy. Kinerja positif pada Oktober juga banyak ditopang oleh penjualan kelompok barang budaya dan rekreasi serta makanan, minuman, dan tembakau.
Secara bulanan, penjualan eceran Oktober 2025 tumbuh 0,6 persen mtm. Pertumbuhan ini dinilai terkait dengan kesiapan pelaku usaha dalam menghadapi lonjakan permintaan menjelang HBKN, yang didukung oleh distribusi barang yang relatif lancar.
Dari sisi harga, tekanan inflasi diperkirakan meningkat pada awal 2026. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Januari 2026 tercatat sebesar 163,2, naik dari periode sebelumnya 157,2. Kenaikan ekspektasi ini didorong oleh perkiraan naiknya harga bahan baku, penyesuaian upah, rencana kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), serta peningkatan permintaan menjelang Ramadan 1447 Hijriah.
Namun demikian, tekanan harga diperkirakan mereda pada kuartal II-2026. IEH April 2026 tercatat sebesar 161,7, lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 172,5. Penurunan ini diyakini terjadi seiring normalisasi permintaan masyarakat setelah periode puncak HBKN Idulfitri.
Meski menunjukkan tren positif, akselerasi penjualan ritel ini masih menyisakan pertanyaan tentang kekuatan riil daya beli masyarakat. Kenaikan ekspektasi inflasi pada awal 2026 menjadi sinyal peringatan, terutama jika tidak diimbangi stabilitas harga dan kebijakan fiskal yang tepat sasaran. (MU01)










