MonitorUpdate.com — Fenomena “Dopamine Cart” atau kebiasaan mengisi keranjang belanja tanpa menyelesaikan transaksi kian marak menjelang Harbolnas 12.12. Perilaku ini dinilai sebagai bentuk mekanisme pertahanan mental generasi muda di tengah tekanan ekonomi dan derasnya perang diskon e-commerce.
Penulis dan pengamat sosial digital, Rizki Ilma Akbar Kusmana, menilai tren ini bukan sekadar gaya hidup impulsif, tetapi refleksi kondisi psikologis masyarakat perkotaan di era ekonomi digital.
“Keranjang belanja hari ini sudah berubah fungsi. Bukan lagi ruang transaksi, tapi ruang imajinasi sekaligus katup pelepas stres. Orang tidak bodoh, mereka sadar tidak beli. Tapi sensasi ‘merasa mampu’ itu yang dicari,” ujar Rizki kepada wartamedia, Senin (9/12/2025).
Menurut Rizki, puncak kepuasan dalam belanja daring justru terjadi pada fase antisipasi, bukan kepemilikan. Saat tombol Add to Cart ditekan, otak memproduksi rasa senang seolah barang tersebut telah dimiliki, meski realitanya tidak pernah masuk ke rekening penjual.
“Ini bukan perilaku boros. Ini bentuk coping mechanism. Di tengah upah yang stagnan, harga kebutuhan melonjak, dan tekanan sosial media, generasi muda mencari ruang aman tanpa harus kehilangan uang,” tegasnya.
Data global dari Baymard Institute menunjukkan rata-rata cart abandonment rate mencapai 70,19 persen. Artinya, tujuh dari sepuluh keranjang belanja digital berakhir tanpa transaksi.
Di Indonesia, Rizki menyebut fenomena ini jauh lebih kompleks. Gen Z menjadikan keranjang belanja sebagai “lemari pamer digital” sekaligus “papan visi” untuk merancang identitas diri.
“Mereka tidak belanja untuk memiliki, tapi untuk merasa setara. Ini yang tidak dibaca serius oleh industri. Traffic memang naik, tapi kualitas daya beli masyarakat justru melemah,” katanya.
Rizki juga mengkritik strategi promosi agresif platform e-commerce yang dinilai menumbuhkan ilusi daya beli.
“Setiap notifikasi diskon adalah stimulus psikologis. Ini bukan sekadar promosi, tapi rekayasa perilaku. Sayangnya, negara dan regulator masih belum punya instrumen untuk melindungi konsumen dari bombardir psikologis semacam ini,” ujarnya.
Ia memprediksi menjelang 12 Desember 2025, trafik e-commerce tetap melonjak, namun tak sebanding dengan konversi transaksi riil.
“Gen Z akan ‘berpesta’ dengan cara mereka sendiri: memenuhi keranjang, menikmati sensasi memiliki secara virtual, lalu meninggalkannya. Itu realitas baru konsumsi digital kita,” tutup Rizki. (MU01)








