MonitorUpdate.com – Pengakuan mengejutkan disampaikan para relawan kemanusiaan Indonesia yang baru kembali dari misi bantuan ke Gaza Palestina. Mereka mengaku mengalami perlakuan brutal saat ditahan militer Israel usai kapal kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 dicegat di perairan internasional.

Salah satu relawan, Rahendro Herubowo, mengungkap dirinya mengalami pemukulan hingga disetrum selama masa penahanan. Kesaksian itu disampaikan setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (24/5/2026).

“Pertama kita ditelungkupkan, lalu badan disiram air sampai basah. Setelah itu saya dipukul di kepala berkali-kali, badan depan-belakang, sempat diinjak, lalu disetrum,” kata pria yang akrab disapa Heru.

Baca Juga: Ditahan Israel Saat Misi Kemanusiaan Gaza, 9 WNI Termasuk Jurnalis Tempo dan Republika Akhirnya Pulang

Heru mengatakan penyiksaan dimulai sejak para relawan dipindahkan dari kapal Ozgurluk ke kapal milik Israel. Para tahanan, termasuk sembilan warga negara Indonesia (WNI), kemudian dimasukkan ke ruang transisi berbentuk kontainer.
Di lokasi itulah, menurut Heru, kekerasan fisik mulai terjadi.

Ia mengaku sempat berteriak keras saat disetrum hingga akhirnya perlakuan tersebut dihentikan. Selama lima hari penahanan, para relawan juga mengaku mengalami tekanan fisik dan psikologis, mulai dari diborgol ketat, ditendang, dipaksa telungkup berjam-jam, hingga dijemur di bawah matahari.

“Kalau bangun sedikit langsung diteriaki ‘Head down! Head down!’. Perlakuannya cukup kasar,” ujarnya.

Tak hanya itu, Heru menyebut terdapat ruangan khusus yang diduga digunakan untuk melakukan penyiksaan terhadap tahanan. “Seperti ada bilik-bilik khusus. Kami menduga itu memang tempat untuk mengeksekusi atau menyiksa tahanan,” katanya.

Dugaan Pelanggaran HAM Internasional
Kesaksian para relawan ini kembali memunculkan sorotan terhadap tindakan Israel terhadap misi kemanusiaan internasional menuju Gaza. Apalagi, kapal bantuan sipil yang membawa relawan lintas negara seharusnya berada dalam perlindungan hukum humaniter internasional.

Relawan lain, Herman Budianto Sudarson, bahkan mengaku melihat banyak korban mengalami cedera serius. “Ada yang rusuk patah, tangan patah, kaki patah, hidung patah. Bahkan ada yang ditembak,” ujar Herman.

Ia juga mengungkap dugaan pelecehan seksual terhadap sejumlah tahanan laki-laki maupun perempuan selama proses penahanan.

“Banyak yang diperlakukan seperti hewan,” katanya.

Meski demikian, kedua relawan menegaskan pengalaman tersebut tidak membuat mereka kapok mendukung perjuangan rakyat Palestina.

“Apa yang kami alami jauh lebih ringan dibanding penderitaan rakyat Gaza,” kata Heru.

Kritik: Diplomasi Indonesia Dinilai Masih Lemah
Di tengah simpati publik terhadap para relawan, muncul pula kritik terhadap lemahnya perlindungan internasional bagi misi kemanusiaan sipil menuju Gaza. Sejumlah pengamat menilai komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), gagal memberikan jaminan keamanan terhadap relawan kemanusiaan.

Respons diplomatik negara-negara peserta flotilla juga dinilai belum cukup memberi tekanan politik kepada Israel terkait dugaan pelanggaran HAM tersebut.

Indonesia sendiri selama ini dikenal vokal mendukung Palestina. Namun, kasus ini dinilai menjadi ujian sejauh mana diplomasi Indonesia mampu mendorong investigasi internasional yang independen terhadap dugaan penyiksaan relawan sipil.

Kritik lain juga diarahkan pada absennya mekanisme perlindungan global terhadap jalur bantuan kemanusiaan ke Gaza yang hingga kini masih rawan intersepsi dan kekerasan.

Solusi dan Langkah Lanjutan
Pengamat hubungan internasional menilai pemerintah Indonesia perlu mendorong beberapa langkah konkret, antara lain:
meminta investigasi internasional independen terkait dugaan penyiksaan;
membawa kasus intersepsi kapal sipil ke forum PBB;
memperkuat koordinasi perlindungan relawan kemanusiaan lintas negara;
serta mendesak pembukaan akses bantuan kemanusiaan permanen ke Gaza.

Selain jalur diplomatik, dokumentasi kesaksian para relawan juga dinilai penting sebagai bagian dari pengumpulan bukti dugaan pelanggaran HAM internasional.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri RI Sugiono yang menyambut kedatangan para relawan di Bandara Soekarno-Hatta menyampaikan rasa syukur atas kepulangan sembilan WNI tersebut.

“Pada tanggal 18 Mei lalu mereka sempat diintersep dan ditahan oleh pihak militer Israel,” kata Sugiono.

Diketahui, sembilan WNI yang terdiri dari jurnalis dan aktivis itu tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 untuk mengantarkan bantuan bagi warga Gaza, Palestina. (MU01)