MonitorUpdate.com – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis delapan indikator strategis ekonomi nasional yang menggambarkan wajah Indonesia memasuki paruh kedua 2026. Di balik pertumbuhan pariwisata dan surplus perdagangan, muncul sejumlah sinyal yang patut dicermati, mulai dari inflasi yang menguat, produksi padi yang menurun, hingga lonjakan impor.
Sejumlah indikator ekonomi terbaru yang dirilis BPS pada Rabu (1/7/2026) memperlihatkan dinamika ekonomi nasional yang bergerak ke arah berbeda. Konsumsi masyarakat masih terdorong oleh kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok, sementara aktivitas perdagangan luar negeri menghadapi tekanan dari meningkatnya impor.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan inflasi tahunan pada Juni 2026 mencapai 3,34 persen, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan harga terutama berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau yang melonjak 4,67 persen, disusul sektor transportasi 4,57 persen dan perawatan pribadi yang mencapai 10,10 persen.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen Dipertanyakan, Ekonom Soroti Data BPS hingga Risiko Fiskal RI
Secara bulanan, inflasi tercatat 0,44 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 1,79 persen.
Di sektor pertanian, kondisi petani belum sepenuhnya membaik. Nilai Tukar Petani (NTP) nasional turun tipis menjadi 127,65, karena kenaikan harga yang diterima petani masih lebih rendah dibandingkan peningkatan biaya yang harus mereka keluarkan.
Data BPS juga menunjukkan harga beras terus mengalami kenaikan. Harga beras premium di penggilingan kini mencapai Rp14.815 per kilogram, naik 11,66 persen dibandingkan Juni tahun lalu. Sementara beras medium berada di level Rp13.525 per kilogram, meningkat 5,10 persen secara tahunan.
Di sektor perdagangan internasional, ekspor Indonesia sepanjang Januari–Mei 2026 mencapai US$115,36 miliar, tumbuh 3,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun secara bulanan, ekspor Mei 2026 justru turun 5,73 persen dibandingkan Mei 2025.
Sebaliknya, impor melonjak cukup tinggi. Nilai impor Januari–Mei mencapai US$111,33 miliar, meningkat 15,24 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Akibatnya, surplus neraca perdagangan Indonesia selama lima bulan pertama 2026 hanya tersisa US$4,03 miliar, jauh lebih sempit dibandingkan ketika ekspor tumbuh lebih kuat pada tahun-tahun sebelumnya.
Meski demikian, ekspor produk industri pengolahan masih menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 6,80 persen, sementara ekspor pertanian serta sektor pertambangan mengalami kontraksi.
Data tersebut memperlihatkan tantangan ekonomi nasional kini bukan hanya menjaga inflasi tetap terkendali, tetapi juga memastikan daya beli masyarakat dan petani tidak terus tergerus oleh kenaikan harga pangan serta meningkatnya biaya produksi. (MU01)


