MonitorUpdate.com – Ambisi Kota Tangerang Selatan merebut gelar juara umum pada Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XXIII Tingkat Provinsi Banten 2026 belum terwujud. Kafilah Tangsel harus puas finis di peringkat keempat dengan nilai 542, di bawah Kabupaten Tangerang (759), Kota Tangerang (614), dan Kabupaten Serang (549).

Hasil tersebut kontras dengan optimisme yang sebelumnya disampaikan Ketua Harian LPTQ Kota Tangerang Selatan, KH Sobron Zayyan.

“Target kami merebut juara umum MTQ Banten ke-23.”

Pernyataan itu disampaikan sebelum keberangkatan kafilah dengan keyakinan bahwa proses pembinaan dan pemusatan latihan yang dilakukan mampu mengantarkan Tangsel menjadi yang terbaik. Namun hingga pelaksanaan MTQ berakhir, target tersebut belum tercapai.

Hingga berita ini ditulis, LPTQ Kota Tangerang Selatan belum menyampaikan evaluasi resmi mengenai penyebab turunnya prestasi tersebut.

Baca Juga: Bukan Sekadar Lomba, MTQ Desa Kemang Jadi Ajang Syiar Islam yang Menggugah Generasi Muda

Sejumlah pemerhati MTQ menilai capaian sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh kualitas peserta, tetapi juga oleh konsistensi pembinaan, regenerasi qari dan qariah, kualitas pelatih, serta sistem pencarian bibit sejak tingkat kecamatan.

Pandangan itu sejalan dengan pernyataan Ketua Umum LPTQ Provinsi Banten, Deden Apriandhi Hartawan, yang menegaskan bahwa MTQ bukan sekadar perlombaan, melainkan bagian dari proses pembinaan untuk melahirkan kafilah terbaik menuju ajang nasional.

“MTQ bukan sekadar perlombaan, melainkan proses pengasahan potensi generasi Qurani agar mampu mengharumkan nama daerah di tingkat nasional.”

Senada dengan itu, Direktur Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI, Abu Rokhmad, menegaskan bahwa penyelenggaraan MTQ harus menjadi sarana meningkatkan pemahaman dan pengamalan Al-Qur’an, bukan hanya mengejar prestasi.

“MTQ ini akan menjadi wasilah atau sarana untuk menjadikan umat Islam makin memahami dan sekaligus dapat mengamalkan isi Al-Qur’an.”

Keberhasilan daerah lain juga menunjukkan bahwa pembinaan menjadi faktor penting. Kabupaten Serang, misalnya, menerapkan sistem pembinaan berbasis zonasi di seluruh kecamatan untuk menjaring qari dan qariah asli daerah, sedangkan Kabupaten Tangerang mempersiapkan kafilah secara intensif hingga akhirnya keluar sebagai juara umum.

Atas dasar itu, sejumlah kalangan menilai LPTQ Kota Tangerang Selatan perlu melakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari pola pembinaan, efektivitas training center, regenerasi peserta, hingga tata kelola organisasi. Evaluasi tersebut dinilai penting agar Tangsel mampu kembali bersaing pada MTQ Provinsi Banten berikutnya.

Publik kini menunggu penjelasan resmi dari LPTQ Kota Tangerang Selatan mengenai faktor-faktor yang menyebabkan target juara umum tidak tercapai, sekaligus langkah konkret yang akan ditempuh untuk memperbaiki prestasi pada masa mendatang.(MU01)