MonitorUpdatecom — Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda masih menjadi perhatian pemerintah setelah erupsi menerus selama sekitar 25 jam menyebabkan sebaran abu vulkanik meluas ke sejumlah wilayah Pulau Jawa dan Sumatra.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Senin (7/9/2026), melaporkan abu vulkanik masih terpantau hingga ketinggian sekitar 15.000 kaki atau 4,57 kilometer. Abu bergerak ke arah barat dengan kecepatan sekitar 15 knot.
Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9, sebaran abu pada lapisan permukaan hingga 15.000 kaki meluas ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup sebagian Banten, Jawa Barat bagian barat-selatan, Lampung dan Bengkulu serta wilayah perairan di sekitarnya.
Baca Juga : Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar hingga Jakarta dan Bengkulu, Pemerintah Minta Warga Waspada
Dampaknya juga terasa pada sektor penerbangan. Hingga Senin pagi, BMKG menyebut delapan bandara di Jawa dan Sumatra ditutup sementara sebagai langkah mitigasi keselamatan penerbangan akibat sebaran abu vulkanik.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani meminta masyarakat tidak panik. Menurutnya, penutupan sementara bandara merupakan langkah mitigasi proaktif untuk memastikan keselamatan penerbangan.
“Masyarakat tidak perlu panik,” kata Faisal. Ia juga mengingatkan warga di wilayah terdampak untuk membatasi aktivitas di luar rumah serta menggunakan masker dan kacamata pelindung apabila harus beraktivitas di luar.
Sementara itu, PVMBG memastikan status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Episode erupsi menerus yang dimulai Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB berakhir pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB. Namun, setelah itu masih terjadi erupsi susulan bertipe Strombolian pada pukul 03.53 WIB.
Kepala PVMBG Siti Sumilah Rita Susilawati menyatakan potensi letusan susulan masih tergolong tinggi. Bahaya yang perlu diwaspadai antara lain lontaran batu pijar, hujan abu lebat dan kemungkinan aliran lava apabila erupsi menerus kembali terjadi.
PVMBG mengimbau masyarakat, wisatawan dan pendaki untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat pesisir Banten dan Lampung juga diminta tetap tenang dan tidak mempercayai informasi hoaks mengenai tsunami.
Di sisi lain, BNPB terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah di wilayah terdampak. BNPB menyebut tiga kabupaten yang terdampak aktivitas vulkanik, yakni Lampung Selatan, Tanggamus dan Pandeglang. Pemerintah juga menyiapkan operasi modifikasi cuaca untuk membantu meluruhkan abu vulkanik apabila kondisi memungkinkan.
Masyarakat yang terdampak abu vulkanik diminta menjaga kesehatan, terutama saluran pernapasan, mata dan kulit. Penggunaan masker dan kacamata pelindung dianjurkan ketika berada di luar rumah.
BMKG juga memastikan pemantauan Selat Sunda terus dilakukan. Data per 7 September 2026 pukul 08.00 WIB menunjukkan probabilitas tsunami di Selat Sunda berada pada kategori rendah, sementara 20 tsunami gauge di sekitar Selat Sunda tidak mendeteksi anomali muka air laut yang mengindikasikan tsunami. (MU01)


