MonitorUpdate.com — Batam dinilai memiliki peluang besar berkembang menjadi salah satu pusat investasi dan ekonomi baru di Asia Tenggara. Kedekatannya dengan Singapura, posisi di jalur pelayaran internasional, serta fasilitas investasi menjadi modal strategis untuk menarik penanaman modal asing (PMA).
Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menilai momentum tersebut perlu dimanfaatkan pemerintah dengan menggeser orientasi kebijakan ekonomi ke investasi dan ekspor yang menyasar pasar global.
“Dalam situasi seperti ini dimana ada masalah daya beli (konsumsi lemah), kebijakan ekonomi harus inovatif dan terus mencari alternatif,” kata Didik dalam catatannya bertajuk “PMA, Kunci Batam Menjadi ‘Dubai Kecil’ di Sumatera”, Selasa (29/9/2026).
Menurut Didik, Indonesia perlu belajar dari Vietnam yang dinilainya berhasil mengembangkan ekonomi berorientasi pasar dan menarik investasi untuk menopang pertumbuhan. Ia menilai kebijakan investasi dan ekspor perlu diperkuat jika Indonesia ingin mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi.
Batam menjadi salah satu wilayah yang dinilai memiliki keunggulan untuk strategi tersebut. Bahkan, Didik menyebut Batam berpotensi menjadi “Dubai Kecil” di Sumatera, dengan memanfaatkan kedekatan geografis dan hubungan ekonomi yang kuat dengan Singapura.
“Pilih saja fokus kebijakan ke Batam, kawasan ekonomi sudah direncanakan maju mengikuti Singapura sejak tahun 1980-an oleh Prof. Habibie,” ujarnya. Ia menambahkan, jumlah penduduk Batam yang telah mencapai lebih dari 2 juta jiwa menjadi salah satu modal bagi pengembangan kawasan tersebut.
Data terbaru menunjukkan arus investasi Batam memang mengalami peningkatan. BP Batam mencatat realisasi investasi pada semester I 2026 mencapai Rp29,89 triliun, tumbuh 62,75 persen dibanding semester I 2025 yang sebesar Rp18,37 triliun.
Salah satu perkembangan paling strategis adalah rencana pembangunan Nvidia DSX AI Factory oleh Firmus Technologies melalui kemitraan dengan Nvidia dan DayOne. Fasilitas berkapasitas 360 megawatt (MW) itu ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal I 2027 dan diproyeksikan menyediakan hingga 170.000 akselerator AI Nvidia sepanjang 2027–2028.
Proyek tersebut, menurut Firmus, diproyeksikan menghasilkan komitmen offtake senilai US$25 miliar hingga US$30 miliar dalam enam tahun pertama kemitraan. Karena itu, Didik melihat masuknya investasi teknologi tinggi seperti ini dapat menjadi katalis bagi investasi lanjutan di Batam.
Namun, Didik mengingatkan bahwa peluang tersebut membutuhkan kepastian hukum, regulasi yang baik, infrastruktur, serta iklim bisnis yang sehat. Menurutnya, pemerintah harus mampu memberikan kepastian dan pelayanan investasi agar momentum masuknya modal global tidak terlewat.
“Kuncinya adalah kebijakan investasi, jika kepala naga sudah masuk dan percaya, maka badan dan ekornya akan segera ikut masuk ke dalam,” kata Didik.
BP Batam sendiri sebelumnya menyatakan kesiapan mendukung pengembangan ekosistem pusat data dan AI melalui penyediaan infrastruktur dasar, termasuk listrik, konektivitas digital, serta kemudahan layanan investasi. Dengan demikian, gagasan menjadikan Batam sebagai “Dubai Kecil” kini berhadapan dengan tantangan utama: bagaimana mengubah potensi geografis dan masuknya investasi teknologi menjadi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan serta memberi dampak bagi masyarakat lokal. (MU01)


