MonitorUpdate.com — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mendorong para imam di berbagai negara memperluas peran keagamaan menjadi jembatan perdamaian dan kemanusiaan di tengah konflik serta berbagai tantangan global.
Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin saat membuka International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2026). Forum ini mengangkat tema “Masjid Harmony, Religious Diplomacy, and Global Peace” dan berlangsung pada 25–28 September 2026.
Nasaruddin menilai imam memiliki posisi strategis karena berinteraksi secara intensif dengan masyarakat. Menurutnya, imam bertemu dengan umat dalam berbagai aktivitas keagamaan secara rutin, sehingga memiliki ruang yang kuat untuk menyampaikan pesan perdamaian dan membangun kesadaran sosial.
“Kehadiran imam untuk menjadi ambassador perdamaian. Mari kita menjadikan masjid sebagai meeting point,” ujar Nasaruddin.
Baca Juga : Hari Santri 2026 Diluncurkan, Kemenag Dorong Pesantren Naik Kelas dari Pendidikan ke Kemandirian Ekonomi
Menag juga mendorong agar kepemimpinan imam tidak hanya berorientasi pada ritual keagamaan, tetapi diperluas ke bidang sosial dan kemanusiaan. Ia menyebut pendekatan moral dan kemanusiaan dapat menjadi pelengkap diplomasi formal dalam menghadapi konflik berkepanjangan.
“Diplomasi formal ternyata tidak berhasil menghentikan peperangan. Imam berusaha menawarkan satu solusi lain dengan menggunakan bahasa moral dan bahasa kemanusiaan,” kata Nasaruddin.
Kemanusiaan sebagai Titik Temu
Menurut Nasaruddin, kemanusiaan dapat menjadi titik temu di tengah perbedaan agama, etnis, maupun kebangsaan. Karena itu, bahasa agama dinilai dapat diarahkan untuk memperkuat kepedulian terhadap korban konflik sekaligus meredam ketegangan.
“Kemanusiaan itu hanya satu, rasa kemanusiaan itu tidak mengenal agama apa pun, etnik mana pun juga. Semua punya rasa kemanusiaan,” ujarnya.
Gagasan tersebut tidak hanya diarahkan pada konflik antarmanusia. Nasaruddin juga menghubungkannya dengan persoalan lingkungan melalui pendekatan ekoteologi. Para imam didorong menggunakan bahasa agama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mencegah kerusakan alam dan eksploitasi sumber daya secara berlebihan.
Masjid Tak Hanya Tempat Ibadah
Kementerian Agama sebelumnya juga menekankan bahwa fungsi imam dapat berkembang menjadi pendidik, mediator, peacebuilder, dan representasi Islam di ruang publik. Dalam kerangka tersebut, masjid dipandang bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang pendidikan, solidaritas sosial, dialog dan pelayanan kemanusiaan.
Nasaruddin bahkan menyampaikan rencana memperluas semangat IGIC melalui pertemuan dengan para pemimpin rumah ibadah agama lain. Forum lintas agama itu diarahkan untuk membahas persoalan kemanusiaan yang menjadi kepentingan bersama.
Ia juga memperkenalkan gagasan ukhuwah makhluqiyah, yakni persaudaraan sebagai sesama makhluk, di samping konsep ukhuwah Islamiyah, ukhuwah basyariyah, dan ukhuwah wathaniyah.
Diikuti 49 Delegasi dari 39 Negara
Ketua Panitia IGIC 2026 M Sabilul Alif menyebut hingga pembukaan konferensi telah terkonfirmasi 49 delegasi internasional dari 39 negara. Mereka terdiri atas Grand Imam, Grand Mufti, serta tokoh agama dari berbagai kawasan.
Konferensi tersebut menjadi forum pertukaran gagasan mengenai peran kepemimpinan agama dalam menghadapi konflik, membangun harmoni, memperkuat diplomasi keagamaan, serta mengembangkan kontribusi masjid terhadap persoalan kemanusiaan dan lingkungan.
Dengan mempertemukan para pemimpin agama dari berbagai negara, IGIC 2026 menempatkan masjid dan imam dalam diskursus yang lebih luas: bukan hanya sebagai pusat ritual, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem dialog, kemanusiaan dan perdamaian global. (MU01)


