MonitorUpdate.com — Pernyataan legenda sepak bola Singapura, Noh Alam Shah, tentang kekuatan mental dan patriotisme Timnas Indonesia kini terasa semakin relevan. Sebelum final FIFA ASEAN Cup 2026, Noh menilai keberhasilan Garuda menembus partai puncak bukan semata-mata karena strategi dan formasi, melainkan karena kemauan besar untuk menang serta rasa patriotisme pemain.
Noh menyampaikan pandangan tersebut saat menghadiri ASEAN Family Fun Fest di kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Sabtu (3/10/2026). Ia menyoroti keberhasilan Indonesia mencetak dua gol dalam waktu tiga menit ketika menghancurkan Bangladesh 9-2 dan memastikan tiket final.
“Bukan gampang ya mau cetak dua gol dalam 3 menit. Dan itu menunjukkan bagaimana patriotisme mereka dan kemauan mereka itu begitu tinggi,” ujar Noh. Menurut mantan predator Timnas Singapura tersebut, ketika pemain sudah mengetahui jumlah gol yang harus dikejar, faktor mental dan keinginan membesarkan nama negara menjadi sangat menentukan.
Baca Juga: Indonesia ke Final FIFA ASEAN Cup 2026, Misi Akhiri Penantian Gelar 35 Tahun
Menariknya, prediksi Noh kemudian mendapat pembuktian di partai final. Menghadapi Thailand di SUGBK, Senin (5/10/2026), Indonesia sempat tertinggal 1-2 pada babak tambahan waktu. Namun, Garuda kembali bangkit melalui gol Elkan Baggott pada menit ke-116 dan memaksa laga berakhir 2-2 hingga 120 menit.
Mentalitas tersebut akhirnya kembali diuji dalam adu penalti. Indonesia tampil tenang dan sukses menang 4-2 setelah dua eksekutor Thailand gagal menjalankan tugasnya. Hasil itu mengantarkan Garuda menjadi juara FIFA ASEAN Cup 2026, sekaligus menorehkan sejarah sebagai kampiun edisi perdana turnamen tersebut.
Pengamat sepak bola Frans Immanuel Saragih menilai keberhasilan tersebut layak diapresiasi, tetapi tetap menyisakan pekerjaan rumah. Menurutnya, Indonesia perlu meningkatkan kreativitas dan disiplin pertahanan karena keunggulan jumlah pemain pada final belum sepenuhnya mampu dimanfaatkan secara optimal.
Sementara itu, pelatih John Herdman juga menekankan mentalitas pantang menyerah sebagai salah satu kunci keberhasilan Garuda. Dengan demikian, pandangan Noh Alam Shah tentang kemauan menang, patriotisme, dan daya juang mendapatkan konteks yang lebih kuat setelah Indonesia mampu bangkit berkali-kali hingga akhirnya mengangkat trofi di hadapan puluhan ribu pendukungnya.
Kini, pesan Noh bukan lagi sekadar pujian menjelang final. Perjuangan Indonesia melawan Bangladesh hingga drama 120 menit kontra Thailand menunjukkan bahwa strategi, teknik, dan taktik tetap penting, tetapi mental juara menjadi pembeda ketika pertandingan memasuki situasi paling kritis. Garuda akhirnya membuktikannya dengan satu hal yang paling lama dinantikan publik: trofi juara ASEAN. (MU01)


