RI Kekurangan Talenta Digital, AFSI Gandeng 55 Kampus 249 Program Digelar, Tapi Mampu Kejar Laju Industri?

Foto: Ist
Foto: Ist

MonitorUpdate.com – Indonesia sedang menghadapi ironi di tengah geliat ekonomi digital: kebutuhan talenta melonjak tajam, tetapi pasokan masih terseok. Di sektor fintech syariah, jurang itu bahkan tampak lebih lebar.

Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) mencoba menambal celah tersebut. Lewat ratusan program kolaborasi dengan perguruan tinggi, organisasi ini mengklaim telah mulai menjembatani dunia kampus dan industri. Namun, pertanyaannya: apakah langkah ini cukup cepat untuk mengejar laju industri yang terus melesat?

Proyeksi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menunjukkan, Indonesia membutuhkan sekitar 12 juta talenta digital hingga 2030. Sayangnya, potensi kekurangan masih berkisar 3–6 juta tenaga kerja.

Masalahnya bukan hanya soal jumlah, tetapi juga kualitas. Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat, pada 2025 baru sekitar 19 persen tenaga kerja Indonesia yang memiliki keterampilan digital. Angka ini tertinggal jauh dibanding negara maju yang sudah mencapai 58 hingga 64 persen.

Di sektor fintech syariah, tantangan itu menjadi berlipat. Laporan GIFT Report 2025 memproyeksikan pasar keuangan digital syariah Indonesia tumbuh 11,3 persen hingga 2029. Namun, pertumbuhan agresif ini belum diimbangi kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang memadai.

Wakil Ketua Umum AFSI, Muhamad Ismail, menegaskan perguruan tinggi tidak lagi bisa berjalan sendiri.

“Kampus tidak bisa berdiri sendiri dalam mengikuti dinamika industri keuangan syariah yang berubah begitu cepat. Kemitraan dengan pelaku industri dan regulator bukan lagi pilihan, melainkan keharusan,” ujarnya.

Sejak 2022, AFSI menjalankan program AFSI Academic Partner (AAP) sebagai jembatan kolaborasi. Program ini mencakup pelatihan, hibah riset, magang, sertifikasi, hingga penyesuaian kurikulum berbasis kebutuhan industri.

Dalam lebih dari empat tahun, AFSI mengklaim capaian berikut:
55 perguruan tinggi bergabung
249 program kolaborasi digelar
1.721 dosen dan mahasiswa mengikuti workshop
295 mahasiswa mengantongi sertifikasi
133 mahasiswa menjalani magang industri
516 peserta terlibat dalam Olimpiade Fintech Syariah Nasional
18 kampus memperbarui kurikulum

Terbaru, AFSI menggelar Training of Trainers (ToT) dan Workshop Fintech Syariah batch ke-9 pada 13–17 April 2026. Kegiatan ini melibatkan 41 dosen dan profesional serta 201 mahasiswa dan peserta umum.

Wakil Kepala Eksekutif Penelitian AFSI, Erika Takidah, menyebut dampak program mulai terasa, terutama dalam pembaruan kurikulum yang lebih relevan.

“Manfaatnya terasa hingga ke aspek fundamental, seperti review kurikulum. Bahkan kami mendapat pelatihan langsung di OJK terkait kripto dan blockchain akses yang sebelumnya tidak mudah didapat tanpa kolaborasi,” ujarnya.

Namun demikian, capaian tersebut masih berbenturan dengan persoalan skala. Dengan kebutuhan jutaan talenta digital dalam beberapa tahun ke depan, program yang ada dinilai belum cukup masif untuk menutup kesenjangan secara signifikan.

Di titik ini, kolaborasi antara kampus, industri, dan regulator menjadi krusial. Tanpa orkestrasi yang lebih terstruktur dan ekspansi program yang lebih agresif, pertumbuhan fintech syariah berisiko tersendat—bukan karena minim pasar, tetapi karena kekurangan tenaga kerja yang kompeten.

AFSI menyatakan akan terus memperluas jangkauan AAP ke lebih banyak kampus, sembari meningkatkan kualitas pelatihan dan sertifikasi.

Ke depan, pertaruhan tidak hanya soal mencetak lulusan, tetapi menghadirkan talenta yang benar-benar siap pakai. Sebab, di era ekonomi digital, kecepatan industri sering kali tidak menunggu kesiapan sumber daya manusianya. (MU01)

Share this article