MonitorUpdate.com — Ratusan kios di Pasar Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), masih belum terisi meski kawasan tersebut telah direvitalisasi dengan anggaran Rp25 miliar secara bertahap yang bersumber dari APBD Kota Tangsel.

Kondisi tersebut menjadi perhatian sejumlah pihak. Bukan hanya persoalan bangunan dan fasilitas, keberadaan kios yang kosong juga dinilai menunjukkan belum pulihnya aktivitas perdagangan di salah satu pusat ekonomi masyarakat Tangsel tersebut.

Direktur Eksekutif Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Tangsel, Medi Sumaedi,SH menyatakan pihaknya siap berkolaborasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Tangsel untuk mendorong kembali aktivitas ekonomi di Pasar Ciputat.

Medi mengatakan, upaya menghidupkan pasar tidak cukup hanya dengan menyediakan kios. Diperlukan ekosistem perdagangan yang mampu menarik pedagang sekaligus mendatangkan kembali konsumen.

Baca Juga : Ratusan Kios di Pasar Ciputat Kosong, Efektivitas Revitalisasi Kini Jadi Sorotan

“Saya sudah terjun langsung survei ke Pasar Ciputat dengan didampingi Sekdis dan pegawai Indag Tangsel,” ujar Medi saat dihubungi  MonitorUpdate.com,  Kamis (17/9/2026).

Dalam survei tersebut, Medi melihat langsung kondisi Pasar Ciputat mulai dari lantai dasar (basement), lantai satu hingga lantai dua.

Menurutnya, kondisi setiap lantai cukup berbeda. Sejumlah pedagang masih beraktivitas di lantai dasar, sementara di lantai satu hanya terdapat beberapa pedagang. Adapun lantai dua, kata dia, masih dalam kondisi kosong.

“Ada kurang lebih 800 kios yang kosong,” ungkapnya.

Medi menilai keberadaan ratusan kios kosong tersebut menjadi tantangan tersendiri. Sebab, untuk menghidupkan kembali lantai-lantai yang sepi, diperlukan ratusan pelaku usaha yang bersedia membuka kegiatan perdagangan di lokasi tersebut.

Selain persoalan pedagang dan konsumen, ia juga menyoroti sejumlah fasilitas yang perlu dibenahi, termasuk persoalan tempat parkir.

“Memang masih ada sejumlah persoalan yang harus dibereskan, termasuk fasilitas tempat parkir yang belum ada,” katanya.

Menurut Medi, penataan kembali Pasar Ciputat membutuhkan energi dan kerja sama berbagai pihak. Hal utama yang harus dibangun adalah kepercayaan pelaku usaha bahwa mereka memiliki peluang mendapatkan konsumen apabila membuka usaha di pasar tersebut.

“Butuh meyakinkan teman-teman yang mau usaha di situ bahwa mereka layak untuk berusaha di pasar itu dan ada pembeli,” terangnya.

Untuk menarik kembali aktivitas ekonomi, Kadin Tangsel juga menyiapkan gagasan melibatkan generasi muda melalui program Pasar Digital Pemuda Indonesia yang akan didorong menjadi salah satu program di Tangsel.

Medi melihat pasar tradisional tidak harus berjalan dengan pola perdagangan konvensional. Aktivitas perdagangan dapat dikombinasikan dengan sektor kuliner, digitalisasi pemasaran, serta keterlibatan anak muda.

“Kita membuat ekosistem anak muda. Kan ada kulinernya juga di situ. Kalau dikombinasikan dengan baik akan jadi sesuatu yang unik,” ujarnya.

Ia mengatakan program tersebut juga dapat diarahkan untuk membantu anak muda yang ingin memulai usaha. Kadin, kata Medi, terbuka untuk memberikan pendampingan hingga pelaku usaha mampu menjalankan bisnisnya secara mandiri.

“Saya menaruh harapan kepada anak-anak muda yang tidak terlalu gengsi untuk bekerja. Kita bantu permodalan dan akan dievaluasi ke depannya. Istilahnya inkubasi dari nol hingga mampu berusaha,” tambahnya.

Medi menargetkan setidaknya sebagian dari ratusan kios kosong tersebut dapat kembali terisi dan digunakan untuk kegiatan ekonomi.

“Dari 800 kios itu paling tidak ada separuhnya yang terisi. Yang penting bisa eksis di situ,” tegasnya.

Langkah kolaborasi tersebut, menurut Medi, tidak berhenti pada wacana. Kadin Tangsel disebut telah mengirimkan surat kepada Wali Kota Tangsel untuk menjajaki kerja sama dengan Disperindag.

“Kadin pun sudah bersurat ke Wali Kota untuk bisa menjalin MoU kerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Tangsel,” pungkasnya. (MU02)