Jejak Ledakan Utang PayLater Rp31,5 Triliun: Temuan Awal Ungkap Gen Z Masuki Zona Rawan Keuangan Jelang 2026

Ilustrasi: Young asian college student sitting counting indonesia banknotes while using laptop on the desk with happy expression. Sumber Freepik.
Ilustrasi: Young asian college student sitting counting indonesia banknotes while using laptop on the desk with happy expression. Sumber Freepik.

MonitorUpdate.com – Indikasi ledakan utang konsumtif mulai terlihat dalam layanan PayLater yang kini mencatat outstanding Rp31,55 triliun. Penelusuran awal menunjukkan tingginya eksposur Generasi Z terhadap kredit digital membuat mereka masuk kategori kelompok paling rentan menuju 2026.

Penelusuran terhadap data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap tren yang menguat sepanjang 2024–2025: layanan PayLater menjadi salah satu sumber pertumbuhan utang konsumtif tercepat, dengan outstanding menembus Rp31,55 triliun pada pertengahan tahun.

Rincian penggunaan menunjukkan hampir setengah dari total pengguna aktif berasal dari generasi muda, terutama Gen Z dan Milenial. Pangsa ini memperlihatkan pergeseran perilaku konsumsi yang semakin bertumpu pada kredit jangka pendek, didorong kemudahan akses dan minimnya verifikasi penghasilan.

Baca Juga: Fenomena ‘Healing’ Gen Z Dinilai Makin Mengkhawatirkan, Data Ungkap Siklus Stres–Belanja Impulsif

Analis keuangan Rizki Ilma Akbar Kusmana mengatakan fenomena tersebut merupakan bukti bahwa kelompok usia produktif menjadi sasaran empuk ekosistem kredit digital. “Eksposur Gen Z terhadap cicilan mikro terus meningkat, sementara kontrol pengeluaran mereka relatif rendah. Ini kombinasi yang membuat struktur keuangan pribadi mereka rentan,” ujarnya.

Indikasi kerentanan itu diperkuat oleh survei UOB Indonesia (Desember 2025), yang menunjukkan Gen Z tetap meningkatkan belanja akhir tahun meski tekanan cicilan meningkat. Sebaliknya, Gen X cenderung menahan pembelian untuk menjaga stabilitas kas.

Dalam dua tahun terakhir, pola konsumsi Gen Z juga tampak bergeser ke barang elektronik berharga tinggi. Data pembelian menunjukkan porsi belanja kelompok berpendapatan rendah untuk telepon seluler meningkat hampir empat kali lipat. “Lonjakan ini memperlihatkan dorongan impulsif berbasis tren yang kemudian ditutup dengan kredit instan seperti PayLater,” kata Rizki.

Di sisi lain, analisis situasi ekonomi makro memperlihatkan adanya tekanan tambahan. Inflasi bahan pokok mencapai 4,25 persen pada akhir 2025 dan berpotensi bertahan di level tinggi. Meski Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 5,3 persen, tekanan harga pangan dapat mempersempit ruang finansial kelompok berpendapatan rendah dan menengah.

Berdasarkan penelusuran narasi penggunaan kredit digital, sebagian Gen Z diketahui mengandalkan bonus akhir tahun dan pendapatan tambahan musiman untuk menutup cicilan yang jatuh tempo.

Namun skema ini tidak menyelesaikan akar persoalan. “Ada pola menunda pembayaran hingga momen tertentu. Ketika beban itu tidak tertangani tuntas, risiko gagal bayar meningkat pada awal tahun,” ujar Rizki.

Ia menyarankan agar periode 25 hari terakhir 2025 digunakan sebagai audit menyeluruh. “Prioritasnya jelas: tekan rasio cicilan di bawah 30 persen pendapatan, lunasi tunggakan PayLater yang berbunga majemuk, dan pulihkan dana darurat,” ucapnya.

Rizki menegaskan bahwa pola konsumsi berbasis kredit cepat perlu dicermati secara struktural. “Jika tidak dikoreksi, 2026 bisa menjadi tahun dengan tekanan keuangan pribadi yang lebih berat bagi Gen Z,” katanya.

Temuan awal ini menunjukkan perlunya pengawasan lebih ketat terhadap literasi kredit digital serta disiplin pengelolaan uang pada pengguna usia produktif. Investigasi lanjutan masih diperlukan untuk melihat bagaimana ekosistem PayLater dan kebiasaan konsumsi Gen Z akan mempengaruhi stabilitas ekonomi rumah tangga pada tahun mendatang. (MU01)

Share this article