MonitorUpdate.com — Gejolak pasar keuangan yang terjadi sepanjang Mei 2026 memperlihatkan bahwa persoalan utama pasar modal Indonesia bukan sekadar volatilitas jangka pendek, melainkan kerentanan struktural yang masih sangat besar terhadap tekanan global dan arus modal asing.

Hal tersebut disampaikan Kusfiardi, analis ekonomi politik pasar saham sekaligus Co-Founder FINE Institute, dalam analisis terbarunya terkait pelemahan IHSG dan rupiah sepanjang periode 18–22 Mei 2026.

“Yang terjadi bukan hanya koreksi biasa. Pasar sedang menunjukkan bahwa struktur pasar keuangan Indonesia masih rapuh, terlalu bergantung pada foreign flow, dan belum memiliki kedalaman domestik yang cukup kuat untuk menyerap shock eksternal,” ujar Kusfiardi.

Baca Juga: Rupiah Tertekan dan Modal Asing Sempat Kabur, KSSK Pastikan Sistem Keuangan RI Tetap Stabil

Sepanjang pekan tersebut, IHSG turun dari level 6.599,24 menjadi 6.162,04 atau melemah sekitar 6–7 persen secara mingguan. Bahkan pada perdagangan 21 Mei 2026, IHSG sempat menyentuh level 6.094,94 yang mendekati batas psikologis 6.000. Pada saat yang sama, rupiah juga melemah hingga menyentuh kisaran Rp17.700 per dolar AS.

Menurut Kusfiardi, kombinasi jatuhnya pasar saham dan pelemahan nilai tukar secara bersamaan menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi bukan hanya persoalan sektoral, melainkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas sistem keuangan nasional secara keseluruhan.

Ia menilai, rumor pembentukan Badan Ekspor Komoditas dan kebijakan ekspor satu pintu memang menjadi pemantik kepanikan pasar, terutama di sektor CPO, batu bara, dan mineral. Namun akar tekanan sebenarnya sudah terbentuk sebelumnya melalui kombinasi foreign outflow, rebalancing MSCI, penguatan dolar AS, serta meningkatnya ketidakpastian global.

“Rumor Badan Ekspor lebih tepat dipahami sebagai katalis yang mempercepat tekanan yang sebenarnya sudah lebih dulu terbentuk. Tekanan utamanya berasal dari arus keluar modal asing dan rapuhnya struktur pasar domestik,” jelasnya.

Kusfiardi menyoroti keputusan MSCI yang mengeluarkan sejumlah saham besar Indonesia seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, dan CUAN dari indeks global sebagai salah satu faktor dominan yang mempercepat tekanan pasar. Menurutnya, kasus tersebut memperlihatkan bahwa pasar modal Indonesia masih berada dalam orbit external market discipline, di mana perubahan keputusan lembaga indeks global dapat langsung memengaruhi stabilitas pasar domestik.

“Pasar Indonesia masih sangat sensitif terhadap perubahan persepsi investor global. Ketika foreign flow keluar secara agresif, dampaknya langsung terasa pada IHSG dan rupiah secara bersamaan,” ujarnya.

Ia juga menilai terdapat anomali dalam dinamika pasar pekan tersebut. Menurutnya, tekanan terhadap IHSG terlihat jauh lebih besar dibanding pelemahan rupiah, yang mengindikasikan adanya tekanan likuiditas dan reposisi portofolio besar-besaran di pasar saham domestik.

“Biasanya pelemahan rupiah dan koreksi IHSG bergerak relatif seimbang. Tetapi kali ini pasar saham jatuh jauh lebih dalam. Ini memberi sinyal adanya tekanan teknikal dan distribusi besar di pasar,” kata Kusfiardi.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa fundamental banyak emiten komoditas sebenarnya masih relatif kuat. Sejumlah perusahaan sawit dan batu bara masih mencatat laba sehat, valuasi murah, arus kas kuat, serta didukung permintaan domestik melalui program biodiesel B50.

Karena itu, menurutnya, gejolak yang terjadi lebih mencerminkan krisis kepercayaan pasar dan meningkatnya risk aversion dibanding kerusakan fundamental korporasi secara langsung.

Kusfiardi juga menilai kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen menunjukkan bahwa Bank Indonesia melihat tekanan terhadap rupiah cukup serius. Meski membantu stabilisasi jangka pendek, pasar membaca langkah tersebut sebagai sinyal meningkatnya tekanan eksternal terhadap ekonomi domestik.

Dalam proyeksinya, Kusfiardi memperkirakan pasar masih akan bergerak volatil dalam jangka pendek. IHSG berpotensi mengalami technical rebound setelah kondisi oversold, tetapi ruang pemulihan dinilai masih terbatas selama outflow asing dan tekanan global belum mereda.

Sementara itu, rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan selama dolar AS tetap kuat, suku bunga global tinggi, dan investor global masih cenderung mengurangi eksposur terhadap emerging market.

“Tekanan terbesar ke depan bukan hanya soal level IHSG atau kurs rupiah, tetapi soal persepsi pasar terhadap kredibilitas kebijakan dan kapasitas negara menjaga stabilitas sistem keuangan,” tegasnya.

Menurut Kusfiardi, pelajaran terbesar dari gejolak Mei 2026 adalah pentingnya reformasi struktural pasar keuangan nasional. Indonesia dinilai perlu memperbesar market depth, memperkuat investor institusional domestik, meningkatkan free float, serta memperbaiki governance pasar agar tidak terus bergantung pada arus modal asing jangka pendek.

“Financial sovereignty bukan berarti menutup diri dari modal asing. Yang dibutuhkan adalah membangun kapasitas domestik agar stabilitas pasar nasional tidak sepenuhnya ditentukan oleh external capital governance,” pungkasnya. (MU01)