MonitorUpdate.com – Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah cara guru menyiapkan pembelajaran di SMPN 35 Kota Bekasi. Melalui program pendampingan Smart-Early Steps yang digagas Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA), waktu penyusunan bahan ajar yang sebelumnya rata-rata mencapai 14 jam per unit pembelajaran dilaporkan dapat dipangkas menjadi sekitar 45 menit.
Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang didanai Kemendikti Saintek Berdampak 2026 tersebut berlangsung selama delapan bulan. Program dipimpin Dr. Khasanah, S.Pd., M.Pd., bersama Dr. Syarifah, M.Pd., dan Nurul Fajri, M.Pd.
Pendampingan tidak diarahkan sekadar membuat guru mampu menggunakan aplikasi digital. Tim UIA menempatkan kemampuan pedagogis sebagai titik utama, yakni bagaimana AI digunakan untuk merancang pembelajaran yang lebih kontekstual, personal, etis, sekaligus sesuai kebutuhan siswa.
Persoalan ini menjadi penting karena SMPN 35 Kota Bekasi berada di lingkungan sekolah urban dengan dukungan laboratorium komputer dan koneksi internet yang memadai. Namun, ketersediaan infrastruktur belum otomatis membuat guru siap memanfaatkan AI dalam proses pembelajaran.
Di saat yang sama, siswa yang mereka hadapi merupakan Generasi Alpha yang relatif akrab dengan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Tantangannya, kecakapan digital tersebut belum selalu terarah untuk kepentingan akademik.
“Hambatan utama di lapangan jarang sekali berpusat pada ketersediaan perangkat keras, melainkan pada terbatasnya kompetensi pedagogis digital guru,” ujar Syarifah, perwakilan tim akademisi UIA.
Menurut dia, keberhasilan integrasi AI sangat bergantung pada kemampuan guru merancang pembelajaran, melakukan personalisasi materi, memfasilitasi interaksi, serta mengevaluasi hasil belajar secara kritis.
*Empat Aplikasi AI Digabung dalam Satu Alur Pembelajaran*
Untuk menghindari penggunaan AI yang terpisah-pisah, tim PKM menggunakan pendekatan Participatory Technological Development (PTD). Guru dilibatkan sejak pemetaan kebutuhan, penyusunan modul, simulasi, hingga evaluasi dan refleksi.
Dalam praktiknya, empat aplikasi digunakan dalam satu alur kerja.
Teachy.ai dimanfaatkan untuk membantu penyusunan modul ajar dan mengorganisasi aktivitas pembelajaran. ChatGPT Plus digunakan untuk mengembangkan materi, membuat diferensiasi tugas berdasarkan kemampuan siswa, serta menyusun draf asesmen.
Sementara itu, Canva Pro AI digunakan untuk memproduksi media pembelajaran visual, sedangkan Wordwall Pro dimanfaatkan untuk mengubah evaluasi konvensional menjadi asesmen formatif berbasis permainan dengan umpan balik langsung.
Penggunaan aplikasi tersebut terlebih dahulu dikoordinasikan dengan manajemen SMPN 35 Kota Bekasi. Sebanyak 30 guru kemudian mengikuti pelatihan selama lima hari.
Tim PKM menyebut antusiasme peserta meningkat ketika mereka tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga dukungan teknologi berupa akses terhadap aplikasi yang digunakan dalam program.
Kompetensi Digital Guru Naik
Hasil evaluasi program menunjukkan adanya peningkatan kompetensi pedagogis digital peserta. Berdasarkan analisis yang mengacu pada Competency Framework for Teachers UNESCO, rata-rata skor kompetensi guru meningkat dari 53,25 persen sebelum program menjadi 71 persen setelah intervensi.
Peningkatan tersebut mencakup sejumlah aspek, mulai dari literasi digital pedagogis, perencanaan pembelajaran berbasis AI, personalisasi pembelajaran, pengembangan media digital, implementasi dan asesmen digital, hingga pemahaman mengenai etika penggunaan AI.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah prompt engineering. Guru tidak hanya menggunakan AI untuk menghasilkan materi secara instan, tetapi dilatih menyusun instruksi yang lebih terstruktur agar keluaran AI dapat disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.
Hasil evaluasi juga mencatat 28 dari 30 guru atau sekitar 93,3 persen peserta dinilai telah mampu secara mandiri menyusun perangkat pembelajaran dan instrumen evaluasi berbasis AI yang memenuhi standar kualitas pedagogis.
“Penilaian kinerja praktis menunjukkan bahwa 93,3 persen peserta atau 28 dari 30 guru telah mampu secara mandiri menyusun perangkat pembelajaran dan instrumen evaluasi berbasis AI yang memenuhi standar kualitas pedagogis,” kata Fajri, Wakil Kepala SMPN 35 Kota Bekasi bidang kurikulum.
Dari sisi efisiensi kerja, program tersebut juga mencatat penurunan beban tugas administratif rutin hingga 65 persen. Efisiensi ini, menurut tim PKM, membuka ruang bagi guru untuk lebih banyak memberikan perhatian individual kepada siswa dan meningkatkan interaksi langsung di kelas.
Namun, efisiensi waktu tidak otomatis dapat dimaknai sebagai pengganti peran guru. Justru, temuan program tersebut menunjukkan bahwa AI lebih relevan ditempatkan sebagai alat bantu untuk mengurangi pekerjaan repetitif, sementara keputusan pedagogis tetap berada di tangan pendidik.
Monitoring: Guru Mulai Terapkan AI di Kelas
Keberlanjutan penggunaan teknologi tersebut kemudian diuji melalui monitoring.
Khasanah, yang juga dosen Program Studi S2 Teknologi Pendidikan UIA, mengatakan monitoring pada 21 Juli 2026 menunjukkan sejumlah guru mulai menerapkan teknologi berbasis AI dalam pembelajaran.
Tim memantau lima guru yang telah menyiapkan modul dan materi pembelajaran sesuai dengan keterampilan yang diperoleh selama pendampingan.
Tahap ini menjadi penting karena keberhasilan program pelatihan tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan peserta menggunakan aplikasi saat pelatihan. Ukuran yang lebih substansial adalah apakah keterampilan tersebut benar-benar digunakan dalam pembelajaran sehari-hari.
Dari Pelatihan ke Komunitas Belajar
Program Smart-Early Steps juga diarahkan agar tidak berhenti setelah pelatihan selesai.
SMPN 35 Kota Bekasi membentuk Komunitas Belajar atau Professional Learning Community sebagai wadah keberlanjutan. Sebanyak 30 guru yang telah mendapatkan pendampingan didorong menjadi peer mentor bagi guru lainnya.
Mereka diharapkan berbagi pengalaman, mendiskusikan praktik pembelajaran, serta membantu guru yang belum mengikuti program awal dalam mengembangkan keterampilan digital.
Pihak sekolah juga disebut telah memasukkan praktik pembelajaran berbasis AI ke dalam panduan operasional internal.
Langkah tersebut menjadi titik krusial. Sebab, tantangan terbesar pemanfaatan AI di sekolah bukan lagi sekadar apakah guru mampu membuka dan menggunakan aplikasi, melainkan apakah teknologi tersebut benar-benar menghasilkan pembelajaran yang lebih bermakna.
Di tengah semakin mudahnya akses terhadap AI, sekolah juga menghadapi persoalan lain: akurasi informasi, perlindungan data pribadi siswa, ketergantungan terhadap teknologi, integritas akademik, hingga risiko penggunaan AI secara instan tanpa proses berpikir kritis.
Karena itu, keberhasilan transformasi digital di sekolah pada akhirnya tidak cukup diukur dari banyaknya aplikasi yang digunakan atau seberapa cepat guru menyelesaikan bahan ajar. Ukuran yang lebih penting adalah apakah teknologi tersebut mampu memperkuat kualitas pembelajaran, meningkatkan kompetensi guru, dan tetap menempatkan guru sebagai pengambil keputusan pedagogis utama.
Program di SMPN 35 Kota Bekasi setidaknya menunjukkan satu arah: AI dapat menjadi alat untuk membuat kerja guru lebih efisien, tetapi kualitas pendidikan tetap bergantung pada bagaimana manusia menggunakan teknologi tersebut. (MU01)


