MonitorUpdate.com — Serikat Jurnalis Muslim Indonesia (SAJID) mulai mendorong jurnalis, santri, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk menguasai teknologi kecerdasan buatan (AI), khususnya dalam produksi video dan penguatan narasi jurnalistik.
Langkah tersebut diwujudkan melalui pelatihan produksi video berbasis AI yang digelar SAJID di AQL Islamic Center, Jakarta, Kamis (13/8/2026). Pelatihan perdana ini diikuti lebih dari 50 peserta dari berbagai latar belakang.
Jurnalis sekaligus praktisi video AI, Arya Pandora, yang menjadi pemateri, menekankan bahwa teknologi AI semestinya ditempatkan sebagai alat bantu bagi manusia, bukan justru mengambil alih kendali.
Baca Juga: Bachtiar Nasir Dorong Jurnalis Muslim Jadi Penghubung Indonesia dan Dunia Islam
“Kita adalah bos. LLM, ChatGPT, macam-macam yang lain, ada Gemini, dan itu adalah asisten kita. Perdayagunakan semaksimal mungkin asisten kita. Jangan kita diperdayagunakan oleh asisten,” kata Arya.
Menurut Arya, kemampuan memanfaatkan AI dalam produksi video tidak cukup hanya dengan mengenal berbagai platform. Pengguna juga harus mampu menyusun prompt secara detail serta memiliki kemampuan membangun cerita yang menarik.
Ia menjelaskan, sebuah naskah video untuk media sosial setidaknya memiliki empat unsur utama, yakni hook, build up, bukti atau klimaks, dan closing.
“Jangan lupakan hook. Hook itu di konten reels biasanya tiga detik. Cari, buatlah, mintalah sama ChatGPT, buatlah cerita atau naskah yang harus ada hook selama tiga detik,” ujarnya.
Selain itu, Arya mengingatkan pentingnya call to action (CTA) pada bagian akhir video. CTA berfungsi mengarahkan penonton melakukan tindakan tertentu, baik membeli produk, mengikuti kampanye maupun memberikan respons terhadap isu yang diangkat.
“Jadi ada hook, build up, klimaks, closing, call to action. Jadi ada, harus segera diajak,” kata Arya.
Bachtiar Nasir: Jangan Berhenti Jadi Konten Kreator
Ketua Umum SAJID Bachtiar Nasir mengatakan penguasaan teknologi video AI perlu diarahkan lebih jauh untuk mendukung kerja jurnalistik dan dakwah.
Menurutnya, kemampuan teknis membuat video harus berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap prinsip jurnalistik.
“Video mungkin banyak yang bisa, tapi jurnalismenya itu,” kata Bachtiar. Ia bahkan mendorong peserta pelatihan tidak berhenti pada kapasitas sebagai konten kreator.
“Kalau saya bicara dakwah, sebetulnya kalian sudah harus masuk ke wilayah jurnalisme, jangan hanya sebagai konten kreator. Sebab beda itu nanti cara berpikirnya dan jangkauannya,” ujarnya.
Bachtiar mengungkapkan SAJID tengah menjajaki kerja sama dengan lembaga sertifikasi tingkat nasional untuk mengembangkan sertifikasi di bidang jurnalistik dan media.
Pelatihan juga direncanakan dikembangkan secara bertahap, mulai dari tingkat dasar, menengah hingga lanjutan, dengan silabus atau kurikulum yang lebih terstruktur.
“Karena ini termasuk sesuatu yang sangat dibutuhkan, terutama bagi industri, apalagi bagi dakwah. Kalau sekarang ini sangat besar pengaruhnya. Dunia film, dunia video, dunia digital, ini eranya,” katanya.
AI Makin Kuat, Peran Manusia Tetap Penting
Bachtiar juga menyoroti tantangan yang muncul seiring semakin pesatnya perkembangan AI. Menurutnya, manusia harus tetap memiliki kemampuan untuk mengarahkan teknologi dan menggunakannya secara bertanggung jawab.
“Di saat AI mengalahkan manusia, pada saat yang sama AI juga sangat membutuhkan manusia hari ini,” ujarnya.
Ia menilai kemampuan mengelola gambar, video, dan narasi visual semakin strategis dalam komunikasi publik. “Namanya perang pertama kali itu narasi. Dan narasi terkuat itu adalah gambar, video,” kata Bachtiar.
Karena itu, pelatihan produksi video AI yang digelar SAJID diharapkan menjadi pintu masuk bagi lahirnya kader-kader media yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan jurnalistik dan memahami bagaimana membangun narasi yang bertanggung jawab.
Sementara Arya Pandora menyambut rencana SAJID mengembangkan pelatihan tersebut secara berjenjang. Menurutnya, kegiatan perdana lebih tepat dipandang sebagai forum pengenalan karena tingkat pengalaman peserta cukup beragam.
“Intinya pertama ini pengenalan dulu,” ujar Arya.
SAJID selanjutnya berencana menyusun pelatihan dengan tingkatan dan kurikulum yang lebih terstruktur. Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan peserta dalam memproduksi konten berbasis AI secara lebih produktif, kreatif, dan profesional. (MU01)


