MonitorUpdate.com – Kisah terbelahnya bulan pada masa Nabi Muhammad ﷺ kembali menarik perhatian. Bukan semata karena klaim populer tentang “bukti NASA”, melainkan karena penelitian akademik terbaru justru menelusuri bagaimana kisah inshiqaq al-qamar berkembang dalam Al-Qur’an, hadis, tafsir, literatur sejarah hingga manuskrip Islam di kawasan Asia Selatan.

Al-Qur’an menyebut peristiwa tersebut dalam QS Al-Qamar ayat 1–2: “Telah dekat datangnya Kiamat dan bulan telah terbelah. Dan jika mereka melihat suatu tanda, mereka berpaling dan berkata: ‘Ini adalah sihir yang terus-menerus.’” Ayat ini menjadi salah satu landasan utama dalam pembahasan tentang inshiqaq al-qamar. Namun, para peneliti juga mencatat adanya dua kerangka penafsiran: ayat tersebut dapat dipahami sebagai tanda eskatologis atau sebagai mukjizat yang telah terjadi pada masa Nabi Muhammad ﷺ.

Dalam tradisi hadis, dasar kisah tersebut juga cukup jelas. Sahih al-Bukhari 4864 meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa bulan terbelah menjadi dua bagian pada masa Rasulullah ﷺ. Riwayat lain dari Ibnu Abbas menyebut bulan terbelah pada masa Nabi, sedangkan riwayat Anas bin Malik menyebut penduduk Makkah meminta tanda kepada Rasulullah ﷺ dan diperlihatkan mukjizat terbelahnya bulan.

Riwayat lain dalam Sahih al-Bukhari bahkan menggambarkan dua bagian bulan terlihat terpisah hingga Gunung Hira berada di antara keduanya. Dengan demikian, dari perspektif sumber keagamaan Islam, pembahasan mengenai inshiqaq al-qamar bukan semata cerita yang baru muncul dalam literatur modern. Ia mempunyai akar dalam ayat Al-Qur’an dan sejumlah riwayat hadis yang tercantum dalam kitab hadis sahih.

Menariknya, penelitian Ines Weinrich yang terbit pada 2026 dalam jurnal Higher Education for the Future membawa pembahasan tersebut ke wilayah sejarah teks dan transmisi pengetahuan. Penelitian berjudul Shifting Perspectives and Methods in Researching the Moon-splitting Episodes itu menelusuri tradisi kisah bulan terbelah yang bergerak melintasi dunia Arab hingga kawasan Malabar di India Selatan. Weinrich meneliti, antara lain, Qiṣṣat Šakarwatī Farmāz, sebuah tradisi naratif tentang asal-usul komunitas Muslim di Malabar yang memuat episode terbelahnya bulan sebagai bukti kenabian Muhammad ﷺ.

Yang menarik, dua manuskrip Qiṣṣat Šakarwatī Farmāz yang kini tersimpan di British Library ternyata tidak menghadirkan seluruh detail cerita secara identik. Weinrich mencatat keduanya sebagai Ms IO Islamic 2807d dan Ms Or 1738h. Perbedaan versi tersebut menjadi petunjuk bahwa ketika kisah bulan terbelah berkembang dalam berbagai genre sastra dan tradisi lisan, muncul pula pengembangan naratif yang tidak otomatis memiliki kedudukan yang sama dengan riwayat hadis awal.

Temuan akademik itu sekaligus memberikan pelajaran penting dalam membaca klaim “sains membuktikan bulan pernah terbelah”. Sampai saat ini, bukti astronomi modern yang diterima secara luas untuk menyatakan bahwa Bulan pernah terbelah secara fisik menjadi dua bagian lalu menyatu kembali pada masa Rasulullah ﷺ belum tersedia. Struktur seperti Rima Ariadaeus, misalnya, memang merupakan fitur geologi nyata di permukaan Bulan, tetapi NASA menjelaskannya sebagai sistem patahan (fault system) atau linear rille, bukan sebagai bukti Bulan pernah terbelah menjadi dua.

Karena itu, ada batas penting yang perlu dijaga: dalil keagamaan dan pembuktian empiris merupakan dua jenis bukti yang berbeda. Dalam perspektif keimanan Islam, Al-Qur’an dan hadis menjadi dasar utama keyakinan mengenai mukjizat tersebut. Sementara dalam penelitian akademik modern, yang dapat ditelusuri antara lain sejarah penafsiran, transmisi hadis, perkembangan narasi, manuskrip dan persebaran cerita. Adapun pertanyaan apakah peristiwa tersebut meninggalkan bukti fisik yang dapat diverifikasi melalui ilmu astronomi atau geologi masih merupakan persoalan tersendiri.

Dengan demikian, kisah bulan terbelah tidak harus ditempatkan dalam pertentangan sederhana antara “agama versus sains”. Justru penelitian terbaru memperlihatkan bahwa satu kisah dapat ditelaah melalui beberapa disiplin sekaligus: Al-Qur’an dan hadis untuk sumber keagamaan, tafsir untuk sejarah pemaknaan, manuskrip untuk transmisi teks, serta astronomi untuk menguji klaim mengenai bukti fisiknya. Di sinilah inshiqaq al-qamar menjadi menarik: bukan karena setiap foto permukaan Bulan otomatis menjadi bukti mukjizat, tetapi karena kisah tersebut memiliki jejak yang panjang dalam sumber Islam dan terus menjadi objek penelitian akademik hingga hari ini. (MU01)