MonitorUpdate.com – Pencarian terhadap lima jurnalis yang hilang bersama kru kapal Arupadhatu 1 di perairan Selat Sunda belum berakhir. Basarnas memastikan operasi tetap berjalan, meski statusnya kini dialihkan dari operasi gabungan khusus menjadi operasi rutin.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafi’i mengatakan, perubahan pola operasi dilakukan setelah evaluasi menyimpulkan operasi gabungan khusus yang melibatkan sejumlah wilayah sudah tidak efektif. Meski demikian, pemantauan terhadap para korban tetap dilanjutkan.
“Sampai sekarang tetap dilakukan pencarian lanjutan. Karena memang operasi kan dialihkan pada operasi rutin,” kata Syafi’i di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Sebelumnya, pencarian dilakukan secara intensif oleh tim gabungan dari Banten dan Lampung setelah Arupadhatu 1 yang membawa delapan orang hilang kontak pada 7 September 2026. Rombongan tersebut terdiri atas lima jurnalis dan tiga awak kapal yang bertolak dari kawasan Carita menuju Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan aktivitas gunung api.
Baca Juga: 10 Hari Tanpa Jejak, Pencarian 5 Jurnalis dan 3 Kru Arupadhatu Dihentikan: Bisa Dibuka Lagi
Lima jurnalis yang berada dalam rombongan tersebut adalah M. Bagus Khoirunnas dari ANTARA, Arie Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, serta Donal Husni yang merupakan jurnalis lepas. Sementara tiga awak kapal terdiri atas Warta sebagai nakhoda, Surakman sebagai ABK, dan Heriyanto sebagai pemandu.
Pencarian Diperluas hingga Enggano
Perubahan status operasi tidak berarti wilayah pencarian dipersempit. Sebaliknya, Basarnas menyebut pemantauan tetap dilakukan dengan cakupan yang diperluas, termasuk wilayah perairan Bengkulu dan sekitar Pulau Enggano.
Langkah tersebut mendapat perhatian setelah jenazah salah satu awak kapal, Surakman, ditemukan di sekitar Pulau Enggano. Jenazah itu awalnya belum dapat dikenali keluarga berdasarkan pakaian maupun barang yang ditemukan. Identitasnya kemudian dipastikan melalui pemeriksaan DNA.
Menurut Syafi’i, jenazah ditemukan sekitar 11 September 2026 dan sempat dimakamkan oleh masyarakat setempat. Setelah dilakukan pendalaman dan pemeriksaan DNA, jenazah tersebut akhirnya teridentifikasi sebagai Surakman dan kemudian diserahkan kepada pihak keluarga.
Namun, Basarnas menegaskan bahwa Pulau Enggano bukan berarti menjadi satu-satunya titik pencarian. Pemantauan dilakukan sebagai bagian dari operasi rutin berdasarkan perkembangan informasi dan kemungkinan pergerakan korban maupun benda yang berkaitan dengan kecelakaan kapal.
Masih Ada Lima Jurnalis dan Dua Kru yang Dicari
Dengan ditemukannya Surakman, jumlah korban yang masih dinyatakan hilang menjadi tujuh orang, terdiri atas lima jurnalis dan dua awak kapal.
Sebelumnya, operasi SAR gabungan telah berlangsung selama 10 hari dan secara resmi dihentikan pada 17 September 2026 setelah tim tidak menemukan tanda keberadaan kapal maupun seluruh rombongan. Namun, penghentian operasi gabungan tersebut tidak serta-merta menutup kemungkinan pencarian lanjutan melalui mekanisme operasi rutin.
Perkembangan terbaru ini sekaligus menunjukkan bahwa pencarian korban di laut menghadapi tantangan besar. Arus, kondisi cuaca, luas wilayah perairan, serta kemungkinan terbawanya korban atau benda dari lokasi kejadian ke wilayah yang jauh menjadi faktor yang harus diperhitungkan tim SAR.
Di sisi lain, Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal sebelumnya meminta agar pencarian lima jurnalis tersebut kembali diperkuat setelah operasi SAR gabungan dihentikan.
Hingga kini, keluarga dan komunitas pers masih menunggu kepastian mengenai keberadaan lima jurnalis yang hilang saat menjalankan tugas jurnalistik tersebut. Basarnas memastikan informasi baru dari masyarakat, nelayan maupun unsur terkait tetap menjadi bagian penting dalam operasi pencarian lanjutan.
MonitorUpdate.com akan terus memantau perkembangan pencarian lima jurnalis dan dua kru kapal yang hingga kini belum ditemukan. (MU01)


