MonitorUpdate.com – Pembangunan SMA Negeri 2 Tajurhalang di Desa Sasakpanjang, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor, mulai berjalan. Namun, proses pendirian sekolah negeri tersebut menuai sorotan, terutama terkait minimnya sosialisasi kepada masyarakat.

Kritik tersebut disampaikan Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Tajurhalang, Ustaz Ruslan Abdul Gani.

Menurut Ruslan, pembangunan sekolah semestinya diawali dengan komunikasi dan sosialisasi yang lebih luas kepada masyarakat, termasuk melalui pemerintah kecamatan dan desa.

Terkait hal ini, Plt Kepala SMAN 2 Tajurhalang, Ahmad Tahyat, menjelaskan bahwa dirinya yang ditunjuk menjadi Plt disekolah tersebut tidak mengetahui banyak persoalan sosialisasi keberadaan SMAN 2 Tajurhalang sebelumnya. Namun ia mengakui pada awal pelaksanaan SPMB masih banyak masyarakat yang belum mengetahui keberadaan sekolah tersebut.

Baca Juga : Usulan SMA Negeri 2 Tajurhalang Dikritik, Tokoh NU Dorong Pembangunan SMK Negeri

Ahmad yang juga bertugas di SMAN Ciomas mengatakan, pada hari pertama pendaftaran, sebagian masyarakat, khususnya dari wilayah Puri Depok, belum menemukan informasi mengenai SMAN 2 Tajurhalang dalam sistem pendaftaran.

Plt Kepala SMAN 2 Tajurhalang, Ahmad Tahyat. (Foto.Dok.MonitorUpdate.com)
Plt Kepala SMAN 2 Tajurhalang, Ahmad Tahyat. (Foto.Dok.MonitorUpdate.com)

“SMAN 2 itu relatif enggak banyak yang tahu. Betul, ini saya rasakan ketika SPMB,” kata Ahmad saat ditemui MonitorUpdate.com di SMAN 1 Tajurhalang, Senin (28/9/2026).

Menurutnya, pada hari pertama SPMB dibuka, masyarakat masih memilih sekolah lain yang lokasinya dianggap lebih dekat karena informasi mengenai SMAN 2 Tajurhalang belum muncul dalam sistem.

Ahmad menyebut informasi mengenai SMAN 2 Tajurhalang baru muncul beberapa hari setelah pendaftaran dibuka. Setelah informasi tersebut tersedia, jumlah pendaftar kemudian meningkat.

“Banyak orang Puri yang pilihan pertamanya ke SMA 1, terus ke SMA Bojonggede atau yang dekat-dekat. Setelah beberapa hari, baru SMA 2 muncul. Di situlah banyak yang daftar,” ujarnya.

Kondisi tersebut, kata Ahmad, menunjukkan bahwa informasi mengenai keberadaan SMAN 2 Tajurhalang belum tersampaikan secara maksimal kepada masyarakat.

Persoalan lain yang ditemui Ahmad adalah masih adanya calon peserta didik maupun orang tua yang belum mengetahui lokasi pembangunan sekolah.

Menurut dia, sejumlah orang tua baru mengetahui lokasi SMAN 2 Tajurhalang setelah mendapatkan penjelasan ketika melakukan proses pendaftaran.

“Banyak yang belum tahu ketika SMA 2 itu telah dibuka. Mereka juga belum tahu tempatnya di mana,” ungkapnya.

Bahkan, kata Ahmad, sebagian masyarakat sempat menanyakan lokasi gedung sekolah karena proses kegiatan belajar mengajar untuk sementara masih dilaksanakan dengan memanfaatkan fasilitas SMAN 1 Tajurhalang.

Setelah dijelaskan bahwa lokasi pembangunan berada di wilayah Desa Sasakpanjang, sebagian warga baru menyadari bahwa sekolah tersebut berada relatif dekat dengan tempat tinggal mereka.

“Setelah saya jelaskan lokasinya di sini (Sasakpanjang), mereka bilang, ‘Oh, ini dekat rumah saya.’ Ternyata orang-orang sana memang belum tahu,” katanya.

Sebagai pelaksana tugas kepala sekolah, Ahmad mengaku tidak mengetahui secara pasti pihak yang bertanggung jawab penuh dalam melakukan sosialisasi pembangunan SMAN 2 Tajurhalang kepada masyarakat.

Namun, menurut dia, sosialisasi semestinya dilakukan oleh pihak yang memiliki kewenangan, termasuk Kantor Cabang Dinas (KCD) pendidikan, dengan melibatkan sekolah serta pemerintah kecamatan dan desa.

“Kalau yang bertugas untuk menyosialisasikan sebenarnya siapa, saya enggak tahu. Seperti KCD, itu yang lebih berhak dan yang memang punya tugasnya mungkin mensosialisasikan ke masyarakat. Dibantu sekolah induk ini,” jelasnya.

Ia menilai pemerintah kecamatan dan desa juga semestinya dapat dilibatkan agar informasi mengenai pembangunan sekolah baru tersebut diketahui masyarakat secara luas.

“Seharusnya dibantu juga dengan pihak kecamatan dan desa. Tapi kalau saya lihat, kayaknya belum kemarin itu. Karena banyak yang belum tahu,” sambungnya.

Di tengah persoalan sosialisasi tersebut, pembangunan fisik SMAN 2 Tajurhalang disebut sudah mulai berjalan.

Ahmad mengatakan, berdasarkan surat yang diterimanya dari tim pembangunan, pekerjaan pembangunan sekolah dimulai pada 3 September 2026.

Sementara pembangunan berlangsung, kegiatan administrasi dan proses belajar mengajar SMAN 2 Tajurhalang masih menumpang di SMAN 1 Tajurhalang sebagai sekolah induk.  Untuk tahun pertama, SMAN 2 Tajurhalang telah menerima siswa melalui tiga rombongan belajar dengan jumlah sekitar 107 siswa. (MU02)