MonitorUpdate.com — Gerakan solidaritas untuk Palestina dinilai perlu memasuki babak baru. Dukungan terhadap warga Gaza tidak cukup hanya diwujudkan melalui pengiriman bantuan kemanusiaan, tetapi perlu dilanjutkan dengan pendampingan jangka panjang hingga proses rekonstruksi.

Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi strategis bertajuk “What’s Next?” yang membahas keberlanjutan gerakan kemanusiaan melalui Global Sumud Flotilla. Forum digelar di Maqdisi AQL, Tebet, Jakarta, Senin (10/8/2026).

Diskusi menghadirkan Dewan Pembina Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) KH Bachtiar Nasir dan salah satu penggagas Sumud Flotilla, Syaikh Dr Marwan Abu Ros.

Dalam forum tersebut, peserta membahas sejumlah agenda lanjutan, mulai dari penguatan jejaring masyarakat Indonesia dengan warga Gaza hingga persiapan rekonstruksi wilayah yang terdampak perang.

Bangun Hubungan Langsung Indonesia-Gaza
Salah satu gagasan yang muncul adalah membangun model hubungan langsung antara masyarakat Indonesia dan warga Gaza. Kerja sama tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai bentuk, antara lain hubungan antarkeluarga, universitas, masjid, maupun lembaga sosial.

Model ini dinilai dapat mengubah pola solidaritas yang selama ini lebih banyak diwujudkan dalam bentuk bantuan logistik menjadi hubungan kemanusiaan yang berkelanjutan.

Dukungan langsung antarmasyarakat juga diharapkan dapat memberikan dukungan psikologis kepada warga Gaza sekaligus memastikan perhatian terhadap mereka tidak berhenti ketika situasi krisis mereda.

Baca Juga: Israel Cegat Armada Kemanusiaan ke Gaza, UBN Desak Pemerintah RI Bergerak Cepat

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat Indonesia diharapkan tidak hanya hadir ketika bantuan darurat dibutuhkan, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam proses pemulihan masyarakat Gaza.

Sumud Flotilla Dinilai Punya Dampak Lebih Luas

Forum juga membahas posisi strategis Global Sumud Flotilla yang berupaya mencapai Gaza melalui jalur laut.

Peserta menilai arti gerakan tersebut tidak hanya dapat diukur dari jumlah kapal atau bantuan yang dibawa. Keberadaan armada kemanusiaan itu juga dipandang sebagai simbol upaya membuka akses bantuan sekaligus menunjukkan bahwa perhatian masyarakat internasional terhadap kondisi Gaza terus bergerak.

Dalam diskusi, muncul pula ungkapan bahwa armada kemanusiaan tersebut menjadi “paku yang ditancapkan ke jantung” Israel. Ungkapan itu digunakan untuk menggambarkan tekanan psikologis dan politik yang dinilai muncul dari gerakan tersebut.

Perkembangan Global Sumud Flotilla juga disebut ikut memengaruhi percakapan publik internasional mengenai Palestina.

Solidaritas Melampaui Batas Agama dan Negara

Keterlibatan peserta dari berbagai latar belakang agama dan kebangsaan menjadi salah satu poin yang mendapat perhatian.

Kehadiran warga negara Barat, termasuk mereka yang bukan Muslim dan bukan berasal dari negara Arab, dinilai memperlihatkan bahwa dukungan terhadap Palestina dapat dibangun atas dasar kemanusiaan.

Keterlibatan tokoh non-Muslim dari Eropa dalam posisi terdepan gerakan juga dinilai dapat memperkuat karakter kemanusiaan Global Sumud Flotilla sekaligus memperluas penerimaan publik terhadap gerakan solidaritas Gaza.

Namun, forum menekankan pentingnya menjaga fokus gerakan.

Agenda Global Sumud Flotilla dinilai perlu diarahkan secara spesifik pada persoalan kemanusiaan di Gaza dan tidak dicampuradukkan dengan berbagai persoalan politik regional lain yang berpotensi menimbulkan konflik kepentingan.

Dari Membuka Blokade Menuju Rekonstruksi Gaza

Agenda yang dinilai tidak kalah penting adalah mempersiapkan rekonstruksi Gaza.

Perjuangan membuka akses bantuan dan persiapan pembangunan kembali Gaza dinilai dapat berjalan secara paralel. Dengan demikian, gerakan kemanusiaan tidak hanya merespons kondisi darurat, tetapi juga mempersiapkan fase pemulihan jangka panjang.

Dalam diskusi disebutkan, terdapat lebih dari 60 ribu anak yatim yang membutuhkan perhatian dan dukungan berkelanjutan.

Selain persoalan anak-anak yang kehilangan orang tua, rekonstruksi juga mencakup pembangunan kembali rumah, masjid, dan berbagai fasilitas publik yang rusak.

Karena itu, koordinasi antara lembaga filantropi dan organisasi kemanusiaan dinilai menjadi salah satu kebutuhan utama.

Indonesia dan Palestina Punya Hubungan Historis

Dukungan Indonesia terhadap Palestina dalam forum tersebut juga dikaitkan dengan amanat konstitusi dan sejarah hubungan kedua bangsa.

Peserta mengaitkan sikap Indonesia terhadap Palestina dengan prinsip konstitusional yang menolak segala bentuk penjajahan. Hubungan tersebut juga memiliki dimensi historis karena Palestina disebut sebagai salah satu pihak yang memberikan dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dengan perspektif tersebut, dukungan terhadap Palestina dipandang tidak semata-mata sebagai solidaritas internasional, tetapi juga bagian dari komitmen Indonesia terhadap prinsip kemerdekaan dan penolakan terhadap penjajahan.

Di sisi lain, forum menilai gerakan solidaritas Palestina tetap membutuhkan evaluasi internal.

Pertumbuhan gerakan yang berlangsung secara organik dinilai perlu diimbangi dengan pembenahan manajemen, evaluasi kelemahan, serta mekanisme untuk meminimalkan konflik kepentingan.

Peserta juga menekankan pentingnya komitmen bagi mereka yang ingin terlibat secara serius dalam gerakan kemanusiaan tersebut.

Menjawab Pertanyaan “What’s Next?”

Pertanyaan “What’s Next?” yang menjadi tema diskusi akhirnya mengarah pada satu persoalan utama: bagaimana mengubah solidaritas menjadi kerja kemanusiaan yang berkelanjutan.

Global Sumud Flotilla dipandang bukan sebagai tujuan akhir, melainkan salah satu bagian dari rangkaian gerakan kemanusiaan untuk Gaza.

Setelah upaya membuka akses melalui jalur laut, agenda berikutnya mencakup penguatan hubungan masyarakat Indonesia dengan warga Gaza, perluasan solidaritas lintas agama dan negara, serta persiapan rekonstruksi.

Bagi Indonesia, agenda tersebut juga ditempatkan dalam konteks hubungan historis dengan Palestina dan prinsip konstitusional mengenai penolakan terhadap penjajahan.

Diskusi di Maqdisi AQL menegaskan perlunya menggeser pola solidaritas dari sekadar simpati dan bantuan darurat menuju keterlibatan yang lebih nyata, terorganisasi, dan berkelanjutan.

Jika Global Sumud Flotilla menjadi simbol upaya membuka jalan bagi bantuan dan solidaritas, maka rekonstruksi serta hubungan langsung antarmasyarakat diharapkan menjadi agenda berikutnya agar Gaza tidak hanya mendapatkan dukungan ketika krisis berlangsung, tetapi juga pendampingan dalam proses pemulihan. (MU01)