MonitorUpdate.com – Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII resmi memasukkan dukungan terhadap perjuangan dan kemerdekaan Palestina ke dalam taujihat atau arahan resmi kongres. Keputusan tersebut dinilai menjadi penegasan bahwa solidaritas umat Islam Indonesia terhadap rakyat Palestina tidak lagi berhenti pada retorika, melainkan diwujudkan dalam komitmen bersama.
Ketua MUI Bidang Ukhuwah Islamiyah, Ustaz Dr. Zaitun Rasmin, Lc., M.A., mengungkapkan rasa syukur setelah usulan yang disampaikannya dalam sidang pleno pengesahan hasil kongres diterima seluruh peserta dan menjadi bagian dari taujihat resmi KUII VIII.
“Alhamdulillah, ini adalah bukti bahwa KUII VIII tidak hanya berhenti pada retorika solidaritas, tetapi benar-benar menerjemahkannya menjadi arah dan komitmen yang mengikat bagi seluruh elemen umat Islam Indonesia,” kata Zaitun dalam keterangannya, Senin (27/7/2026).
Menurut Zaitun, masuknya isu Palestina dalam dokumen resmi kongres menunjukkan adanya kesamaan pandangan di kalangan ulama, pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam, akademisi, dan tokoh bangsa mengenai pentingnya memperkuat dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina.
Ia mengungkapkan, sejak awal rangkaian KUII VIII dirinya telah mendorong agar isu Palestina menjadi salah satu rekomendasi utama kongres. Usulan tersebut kembali disampaikan dalam sidang pleno hingga akhirnya disepakati sebagai bagian dari taujihat.
“Palestina bukan hanya persoalan umat Islam, tetapi juga persoalan kemanusiaan, keadilan, dan penolakan terhadap penjajahan. Karena itu, KUII VIII memiliki posisi strategis untuk menyatukan sikap seluruh elemen umat Islam Indonesia,” ujarnya.
Beasiswa Rp22 Miliar untuk Mahasiswa Palestina
Selain memperkuat sikap politik dan moral melalui taujihat, KUII VIII juga menghasilkan langkah konkret berupa program beasiswa senilai Rp22 miliar bagi mahasiswa Palestina yang menempuh pendidikan di Indonesia.
Program tersebut merupakan hasil kerja sama Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI, yang ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman pada pembukaan KUII VIII, Jumat (24/7/2026).
Zaitun menilai program tersebut menjadi contoh nyata bagaimana rekomendasi kongres dapat diwujudkan dalam aksi kemanusiaan yang berdampak langsung.
“Beasiswa ini bukan sekadar bantuan, tetapi investasi jangka panjang. Kita sedang menyiapkan generasi Palestina masa depan yang tumbuh bersama nilai-nilai perdamaian dan ukhuwah dari Indonesia,” katanya.
Ia berharap pelaksanaan program tersebut terus dikawal agar berjalan berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi penerima.
Jangan Berhenti sebagai Dokumen Kongres
Zaitun juga mengingatkan agar taujihat KUII VIII tidak berhenti sebagai dokumen administratif semata. Menurutnya, seluruh organisasi Islam yang berada di bawah naungan MUI perlu menjadikan hasil kongres sebagai pedoman dalam menjalankan program dakwah, pendidikan, kemanusiaan, hingga penguatan kebangsaan.
“Taujihat ini harus menjadi ruh gerak seluruh ormas Islam, bukan hanya di forum kongres, tetapi juga di lapangan dakwah kita masing-masing. Terkhusus soal Palestina, ini harus terus dikawal, baik dari sisi diplomasi, kemanusiaan, maupun pendidikan,” ujarnya.
Masuknya isu Palestina ke dalam taujihat KUII VIII memperlihatkan bahwa forum tersebut tidak hanya membahas agenda keumatan di tingkat nasional, tetapi juga menegaskan komitmen moral umat Islam Indonesia terhadap isu-isu kemanusiaan global. (MU01)


