MonitorUpdate.com — Harga minyak mentah dunia yang kembali menembus level US$100 per barel mulai memunculkan kekhawatiran terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di Indonesia. Pertamina menyebut harga Pertamax berpotensi bergerak menuju kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter apabila tekanan harga minyak global terus berlanjut.
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto mengatakan kondisi pasar energi saat ini cukup kompleks akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Menurutnya, situasi tersebut bahkan dinilai lebih pelik dibandingkan periode konflik Rusia-Ukraina.
“Kalau tidak, kondisi ini akan berdampak seperti sekarang, harga Pertamax dan lain-lain itu akan berkisar antara di angka Rp18-20 ribuan, karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia,” kata Eko dalam acara Pertamax Journey di Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (11/9/2026).
Pernyataan tersebut bukan berarti harga Pertamax saat ini telah mencapai Rp20.000 per liter. Angka tersebut merupakan potensi penyesuaian apabila harga minyak mentah dunia bertahan tinggi dan tidak menunjukkan tanda-tanda kembali ke kisaran sebelum krisis geopolitik.
Baca Juga: Harga BBM Pertamina Turun, Pertamax Turbo hingga Dexlite Lebih Murah, Pertalite Tetap Rp10.000
Tekanan terutama berasal dari eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran serta meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi. Harga minyak Brent untuk kontrak terdekat tercatat naik US$3,29 atau 3,4 persen menjadi US$101,21 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik US$3,02 atau 3,25 persen menjadi US$96,05 per barel. Keduanya berada pada level tertinggi sejak 22 Mei 2026.
Kondisi tersebut menjadi penting bagi Indonesia karena harga BBM nonsubsidi sangat dipengaruhi perkembangan harga minyak dunia. Jika tren kenaikan berlangsung lama, ruang penyesuaian harga BBM nonsubsidi semakin besar dan pada akhirnya dapat berdampak terhadap biaya transportasi serta harga berbagai barang dan jasa.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik krusial dalam situasi tersebut. Jalur strategis di kawasan Timur Tengah itu sebelumnya menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia. Gangguan berkepanjangan terhadap arus energi melalui kawasan tersebut berpotensi mempertahankan tekanan terhadap harga minyak global.
Bagi masyarakat, perkembangan harga minyak dunia kini menjadi indikator penting yang perlu dipantau karena kenaikan BBM nonsubsidi dapat menciptakan efek berantai terhadap ongkos transportasi, distribusi barang, dan biaya produksi. Karena itu, potensi Pertamax menembus Rp20.000 per liter masih sangat bergantung pada durasi konflik, kondisi pasokan global, serta perkembangan harga minyak mentah dunia dalam beberapa waktu ke depan. (MU01)


