MonitorUpdate.com — Klaim pertumbuhan penjualan mobil nasional sebesar 33,3 persen yang disampaikan Penasihat Khusus Presiden Hasan Nasbi menuai sorotan. Pebisnis properti Geisz Chalifah mempertanyakan apakah kenaikan tersebut dapat dijadikan indikator bahwa daya beli masyarakat secara keseluruhan telah menguat.
Dalam opininya, Geisz menilai sebuah angka ekonomi tidak dapat dibaca secara terpisah dari konteks dan metode pengukurannya. Menurut dia, pertumbuhan penjualan otomotif perlu dilihat bersama basis pembanding, volume penjualan riil, serta perbedaan antara wholesales dan retail sales.
“Tidak ada angka yang berdiri sendiri. Setiap angka memiliki alasan, memiliki konteks, dan tentu memiliki data pembanding,” kata Geisz.
Ia menyoroti kemungkinan low base effect, yakni pertumbuhan persentase yang terlihat tinggi karena dibandingkan dengan periode sebelumnya yang memiliki basis rendah. Karena itu, kenaikan 33,3 persen menurutnya belum otomatis menunjukkan bahwa daya beli masyarakat telah pulih secara menyeluruh.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen Dipertanyakan, Ekonom Soroti Data BPS hingga Risiko Fiskal RI
Geisz juga membedakan antara wholesales, yakni distribusi kendaraan dari produsen kepada jaringan diler, dengan retail sales, yaitu penjualan kepada konsumen akhir.
Menurutnya, pertumbuhan distribusi kendaraan dari pabrik tidak dapat secara otomatis disamakan dengan peningkatan konsumsi masyarakat. Kendaraan yang dikirim ke diler belum tentu seluruhnya telah dibeli konsumen.
Sorotan pada Ketimpangan Daya Beli
Geisz kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan konsep K-shaped recovery, ketika pemulihan ekonomi berlangsung tidak merata. Kelompok masyarakat berdaya beli tinggi masih mampu mengonsumsi barang tahan lama, sementara kelompok menengah dan bawah menghadapi tekanan biaya hidup serta ketidakpastian pendapatan.
“Mobil yang terjual memang fakta. Tetapi menjadikan fakta tersebut sebagai gambaran kesejahteraan seluruh rakyat adalah persoalan lain,” ujarnya.
Sorotan Geisz semakin tajam ketika membandingkan kondisi otomotif dengan sektor properti, khususnya rumah tinggal tipe kecil.
Ia mengacu pada data Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia yang disebut mencatat penjualan properti residensial pasar primer pada Triwulan I 2026 mengalami kontraksi 25,67 persen secara tahunan. Penjualan rumah tipe kecil bahkan disebut turun 45,59 persen.
Sebaliknya, penjualan rumah tipe menengah tercatat tumbuh 8,28 persen, sedangkan tipe besar turun 8,03 persen.
Bagi Geisz, kontraksi rumah tipe kecil menjadi indikator yang penting karena segmen tersebut berkaitan erat dengan masyarakat yang sedang berupaya memiliki hunian pertama.
KPR dan Pilihan Menyewa
Persoalan berikutnya, menurut Geisz, adalah akses pembiayaan. Ia menyebut data Bank Indonesia menunjukkan sekitar 69,87 persen pembelian rumah primer menggunakan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Ketika kemampuan membayar cicilan tidak sebanding dengan pendapatan, masyarakat dapat menunda pembelian rumah dan memilih menyewa.
Geisz juga mengutip data Pinhome yang menunjukkan proporsi pencarian properti sewa meningkat dari 23 persen pada semester I 2025 menjadi 27 persen pada semester II 2025.
Meski angka tersebut tidak serta-merta membuktikan perubahan perilaku seluruh masyarakat Indonesia, menurut Geisz peningkatan pencarian properti sewa menunjukkan bahwa opsi menyewa semakin dipertimbangkan ketika kepemilikan rumah dinilai semakin sulit dijangkau.
Pertumbuhan Ekonomi Dipertanyakan
Geisz pada akhirnya mempertanyakan penggunaan satu indikator untuk menggambarkan kondisi ekonomi nasional secara keseluruhan.
Menurut dia, pertumbuhan penjualan mobil perlu dibaca bersama indikator lain, termasuk kemampuan masyarakat membeli rumah, perkembangan pendapatan, akses pembiayaan, serta kondisi konsumsi rumah tangga.
Ia menyebut penggunaan hanya angka yang terlihat positif sebagai gambaran umum ekonomi berpotensi melahirkan cherry-picking data, yakni memilih indikator tertentu yang mendukung suatu kesimpulan sementara mengabaikan indikator lain yang memberikan gambaran berbeda.
“Pertumbuhan ekonomi bukan sekadar berapa banyak mobil yang dikirim dari pabrik ke diler. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: pertumbuhan itu tumbuh untuk siapa?” kata Geisz.
Pandangan tersebut sekaligus membuka perdebatan lebih luas mengenai kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia: apakah pertumbuhan yang tercermin dalam sejumlah indikator makro benar-benar telah dirasakan secara merata, atau justru masih menyisakan kesenjangan antara kelompok masyarakat yang memiliki daya beli tinggi dengan mereka yang tengah berjuang memenuhi kebutuhan dasar. (MU01)


