MonitorUpdate.com – Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan naik hingga akhir 2026. Kepastian ini disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di tengah kekhawatiran publik soal potensi gejolak harga energi global.
Menteri Keuangan menegaskan bahwa pemerintah telah menghitung secara matang skenario lonjakan harga minyak dunia, bahkan hingga level tinggi. Dengan asumsi harga minyak mencapai US$100 per barel, APBN disebut tetap mampu menahan kenaikan harga BBM subsidi hingga akhir tahun.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, merespons pertanyaan Ketua Komisi XI Mukhamad Misbakhun terkait kesiapan fiskal pemerintah.
Baca Juga : Harapan ke Menkeu Baru Mulai Pudar? Pertumbuhan Meleset, Risiko Fiskal RI Disorot
“Dengan asumsi harga minyak rata-rata US$100 per barel sampai akhir tahun, sudah kami hitung. Kami siap tidak menaikkan harga BBM bersubsidi,” kata Purbaya, Senin (6/4/2026).
Penegasan ini sekaligus meredam spekulasi yang berkembang di masyarakat soal kemungkinan subsidi energi jebol di tengah tahun. Isu kelangkaan hingga kenaikan harga pada Juli sempat ramai diperbincangkan.
Purbaya bahkan menyebut kekhawatiran tersebut tidak berdasar. “Kita sudah siapkan sampai akhir tahun. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” ujarnya.
Dari sisi fiskal, Kementerian Keuangan mengandalkan sejumlah bantalan untuk menjaga stabilitas harga energi. Salah satunya adalah Sisa Anggaran Lebih (SAL) yang saat ini mencapai sekitar Rp420 triliun.
Menurut Purbaya, dana tersebut menjadi instrumen penting untuk meredam tekanan jika harga minyak melonjak di luar perkiraan. Selain itu, pemerintah juga mengandalkan potensi kenaikan penerimaan negara dari sektor energi.
Ia menyebut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia telah mengindikasikan adanya tambahan penerimaan negara dari kenaikan harga minyak dan batu bara di pasar global.
“Jadi bantalan kita berlapis-lapis. Ada SAL, ada tambahan penerimaan dari sektor energi,” ujar Purbaya.
Meski demikian, pernyataan optimistis pemerintah ini tetap menyisakan catatan. Ketergantungan pada volatilitas harga komoditas global, terutama minyak dan batu bara, berpotensi menjadi pedang bermata dua bagi APBN.
Di satu sisi, kenaikan harga memang meningkatkan penerimaan negara. Namun di sisi lain, beban subsidi energi juga ikut terdongkrak. Dalam konteks ini, konsistensi kebijakan fiskal dan akurasi asumsi makro menjadi kunci agar janji menahan harga BBM tetap terjaga hingga akhir tahun.
Untuk saat ini, pemerintah memastikan skenario terburuk sudah diantisipasi. “BBM subsidi sampai akhir tahun aman. Tidak perlu panik,” kata Purbaya. (MU01)









